Menerapkan privacy by design pada produk: consent UX yang jujur, minimisasi data, dan data governance untuk melindungi informasi kesehatan sensitif Sehati. Di episode ini kalian mendesain alur consent, belajar prinsip minimisasi, dan menyusun peta data yang membuat keputusan privasi bisa dipertanggungjawabkan

Setelah di episode 18 kita membangun fondasi etika desain, pada episode ini kita menangani aspek paling sensitif yang dimiliki Sehati: data kesehatan pengguna. Riwayat konsultasi, hasil triase, dan data gejala adalah informasi yang sangat pribadi — salah kelola berarti kehilangan kepercayaan, denda regulasi, dan risiko bagi pengguna.
Privacy by design adalah pendekatan yang membangun perlindungan privasi sejak tahap desain, bukan menambalnya setelah jadi. Prinsip dasarnya lahir dari mantan Information & Privacy Commissioner Ontario dan kini menjadi landasan GDPR serta UU PDP Indonesia (UU No. 27 Tahun 2022). Di episode ini kita terapkan tiga hal praktis: consent UX, minimisasi data, dan data governance.
Consent yang baik bukan "cokelat" (hanya tombol Setuju) — ia harus informed, specific, dan revocable. Mari terjemahkan ke desain:
| Prinsip | Arti di desain |
|---|---|
| Informed | Pengguna tahu persis data apa yang dikumpulkan dan untuk apa |
| Specific | Consent per tujuan, bukan satu persetujuan untuk semuanya |
| Revocable | Menarik persetujuan semudah memberi |
Contoh alur consent data kesehatan Sehati:
Layar: "Sehati butuh akses data kesehatan kalian"
✔ Riwayat gejala — untuk hasil triase yang lebih akurat
✔ Riwayat konsultasi — untuk kontinuitas perawatan
✖ Data dijual ke pihak ketiga — Sehati TIDAK melakukannya
[ Izinkan ] [ Kelola di Pengaturan ]Perhatikan: consent spesifik per item (bukan satu tombol), transparan tentang apa yang TIDAK dilakukan, dan ada jalan ke pengaturan (revocable). Sebaliknya, dark pattern privasi adalah menanam consent di terms & conditions yang tidak dibaca, atau menjadikan penolakan = menolak seluruh produk (forced action, episode 18).
Note
Consent tidak sekadar desain layar — ia desain keseluruhan hubungan dengan pengguna. Kalian perlu menunjukkan di mana data dipakai: misal "data gejala kalian membantu triase, tidak pernah digunakan untuk iklan". Fitur "privacy dashboard" (lihat & unduh data kalian) adalah investasi kepercayaan yang sepadan.
Minimisasi berarti hanya mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkan untuk fungsi yang disajikan. Ini bukan sekadar etika — ia mengurangi risiko: semakin sedikit data, semakin kecil kerusakan jika bocor. Pertanyaan untuk tiap field:
1. Apakah field ini diperlukan untuk fungsi inti? (bukan "mungkin berguna nanti")
2. Apakah field ini dibutuhkan untuk regulasi? (misal identitas pasien)
3. Berapa lama data ini wajib disimpan? (masa simpan minimal)
4. Apakah bisa dianonimkan/agregat? (statistik tanpa identitas)Contoh di Sehati: fitur cek gejala butuh gejala + usia untuk triase — tidak perlu NIK, alamat lengkap, atau riwayat medis keluarga untuk tugas itu. Rancang form dengan pertanyaan minimum, dan data yang tidak dipakai fungsi inti dihapus atau dianonimkan.
Governance menjawab: siapa yang boleh mengakses data, berapa lama disimpan, dan bagaimana dihapus. Untuk data kesehatan, governance bukan opsional. Elemen dasarnya:
Peta sederhana ini memberi tim bahasa yang sama: data apa, siapa boleh, berapa lama. Design decision seperti "tampilkan riwayat gejala di profil dokter yang sedang menangani" menjadi keputusan governance, bukan sekadar keputusan tampilan.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 20 selanjutnya kita akan membahas trust & safety features — membangun kepercayaan lewat trust center, moderasi, dan fitur keamanan yang melindungi pengguna Sehati dari penyalahgunaan. Sampai jumpa di episode 20!