Mendesain antarmuka yang tidak lagi statis: adaptive UI, komponen generatif, dan personalisasi konten di era GenUI. Di episode ini kalian merancang home Sehati yang adaptif berdasarkan kondisi pengguna, belajar menjaga kualitas dan kepercayaan ketika interface berubah-ubah, dan memahami peran design system di dalamnya

Setelah di episode 21 kita merancang AI-native features untuk Sehati, pada episode ini kita melangkah lebih jauh: interface yang bisa berubah sendiri. Selama puluhan tahun, UI adalah artefak statis yang didesain sekali dan ditampilkan sama untuk semua. Era GenUI (generative UI) mengubah asumsi itu: interface di-generate secara dinamis berdasarkan konteks, data, dan tujuan pengguna.
Ini menghadirkan paradoks menarik bagi product designer: kita tidak lagi hanya mendesain layar, tetapi mendesain sistem yang menghasilkan layar. Tantangannya bergeser dari "membuat tata letak" ke "membuat aturan dan penjaga kualitas". Dan di produk kesehatan, interface yang salah di-generate bisa menyesatkan — kualitas bukan pilihan.
Adaptive UI menyesuaikan tampilan berdasarkan konteks: waktu, kondisi pengguna, perangkat, riwayat, dan tujuan. Ini berbeda dari sekadar responsive (menyesuaikan ukuran layar) — adaptif menyesuaikan isi dan prioritas, bukan hanya tata letak.
Contoh home Sehati yang adaptif:
Skenario A (pagi, pasien diabetes):
┌─ Pertahankan rutinitas pagi
├─ [Cek gula darah] [Obat: metformin 500mg ✔]
└─ Artikel: "Kadar gula puasa yang sehat"
Skenario B (malam, pasien batuk 2 hari):
┌─ Perlu perhatian
├─ [Cek gejala batuk] [Konsultasi 24 jam]
└─ Info: "Kapan batuk perlu ke dokter?"Perhatikan: bukan sekadar urutan berbeda — prioritas dan CTA yang ditampilkan berbeda berdasarkan kondisi pasien. Adaptif yang baik mengurangi langkah (episode 6): pasien diabetes langsung melihat aksi yang relevan tanpa mencari.
Generative components adalah elemen UI yang dihasilkan oleh AI berdasarkan data — bukan template statis. Contoh: kartu ringkasan kesehatan yang ditulis ulang sesuai hasil terbaru, atau halaman "rencana perawatan" yang disusun dari jawaban triase.
Personalisasi yang dilakukan dengan benar menggunakan data untuk mempercepat tujuan pengguna, bukan untuk menampilkan lebih banyak iklan. Prinsipnya:
| Personalisasi baik | Personalisasi buruk |
|---|---|
| Menyesuaikan CTA dengan kondisi kesehatan | Menampilkan iklan berdasarkan gejala |
| Menyederhanakan form dengan data yang dimiliki | Menyembunyikan opsi yang "kurang menguntungkan" |
| Menjelaskan mengapa konten ini muncul | Membuat user merasa diintai tanpa alasan |
Batas ini penting — menyeberang ke "personalisasi buruk" adalah dark pattern (episode 18) dan bisa menandai pelanggaran privasi (episode 19).
Warning
Di era GenUI, determinisme hilang: dua pengguna bisa melihat antarmuka berbeda, dan halaman yang sama bisa berubah antar kunjungan. Ini masalah besar untuk testing dan trust. Solusinya: tetapkan bagian mana yang boleh generatif (konten, kartu rekomendasi) dan bagian mana yang wajib statis & konsisten (navigasi, tombol aksi berisiko, konfirmasi). Jangan pernah membiarkan AI mem-generate elemen yang berpotensi berbahaya bila salah.
Karena UI tidak lagi statis, kontrol kualitas harus bergeser dari "review tiap layar" ke review sistem penghasil layar:
Wajib: 1 CTA primer (tindakan), maks 1 CTA sekunder
Wajib: token warna dari semantic scale, kontras ≥ 4.5:1
Wajib: teks maks 2 baris, tanpa klaim medis tanpa sumber
Dilarang: memunculkan harga/penawaran dari data gejalaAturan ini adalah "guardrails" yang mengubah komponen generatif menjadi aman — desainnya dijamin konsisten walau isinya dinamis.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 23 selanjutnya kita akan membahas scalable design systems — memperluas design system Sehati lintas produk dan tim: token governance, contribution model, dan cara menjaga sistem tetap sehat saat perusahaan bertumbuh. Sampai jumpa di episode 23!