Mendesain produk yang dibangun di atas AI: memahami AI-native products, agentic UX, dan interface LLM yang jujur dan aman. Di episode ini kalian merancang fitur asisten triase AI untuk Sehati, belajar menampilkan tingkat keyakinan AI, dan menyusun strategi mitigasi kesalahan

Setelah di episode 20 kita membangun trust & safety, pada episode ini kita masuk fase paling menarik di 2026: AI-native product design. Fitur cek gejala yang selama ini berbasis aturan (episode 3-7) bisa diperkuat dengan model AI — dan cara kita mendesainnya akan menentukan apakah fitur itu membantu atau mencelakai pengguna.
Perbedaan kunci: fitur "konvensional" punya hasil yang deterministik, sedangkan fitur AI menghasilkan output yang tidak sepenuhnya terprediksi. Desain harus mengelola ketidakpastian itu: membangun kepercayaan pada yang benar, dan melindungi dari yang salah. Di ranah kesehatan, kesalahan AI bukan sekadar bug — bisa menyesatkan pasien.
Perbedaan yang sering disalahpahami:
Untuk Sehati, cek gejala AI-native berarti: alur triase dirancang di sekitar asisten AI yang menanya, menilai, dan menjelaskan — dengan manusia sebagai pengawas penting. Sehati sendiri (produk keseluruhan) tetap hybrid: ada fitur konvensional dan fitur AI-native.
Note
Pertanyaan kunci sebelum merancang fitur AI: apakah ini benar-benar butuh AI? Jika aturan if-else sudah cukup (seperti triase 5 pertanyaan di episode 3), AI hanya menambah biaya dan risiko. AI layak ketika datanya kompleks, personal, atau open-ended. Jangan menjejalkan AI untuk terdengar canggih.
Interface LLM berbeda dari form biasa: outputnya berupa bahasa alami, kadang panjang, dan tidak selalu konsisten. Prinsip desain untuk interface LLM:
Anda: "Saya batuk-batuk sejak kemarin dan sedikit sesak."
Asisten: "Baik, batuk disertai sesak perlu diperhatikan.
Tingkat keyakinan saya: sedang (60%).
Saran saya: konsultasi dalam 24 jam, dan segera ke IGD jika
sesak memburuk. [Dasar: pertanyaan yang saya tanyakan]"
[ Lanjut Konsultasi ] [ Tanya lagi ] [ Bicara Dokter ]Perhatikan tiga hal: tingkat keyakinan eksplisit, saran langkah nyata, dan tindakan darurat yang jelas. Tanpa ketiganya, asisten berbahaya atau tidak berguna.
Agentic UX adalah desain interaksi di mana AI tidak hanya menjawab, tetapi bertindak atas nama pengguna: menganalisis, merencanakan, dan mengeksekusi rangkaian tugas. Contoh di Sehati: asisten yang menjadwalkan konsultasi, menyiapkan ringkasan gejala untuk dokter, dan mengingatkan penggantian obat.
Desain agentic yang aman membutuhkan tiga elemen:
| Elemen | Arti | Contoh Sehati |
|---|---|---|
| Transparency | User tahu AI akan bertindak apa | "Saya akan menyiapkan ringkasan gejala untuk dr. Sari" |
| Consent | Aksi penting butuh persetujuan | "Kirim ringkasan ini ke dokter? [Ya] [Edit]" |
| Control & undo | User bisa menghentikan/membatalkan | Riwayat aksi agent + tombol batalkan |
Prinsip utamanya: agent harus terlihat bekerja, bukan bertindak dalam bayangan. Setiap aksi yang memengaruhi data atau biaya pengguna harus terlihat dan bisa ditarik kembali.
AI bisa menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan tapi salah (hallucination). Strategi desain untuk mengelolanya:
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 22 selanjutnya kita akan membahas generative & adaptive interfaces — UI yang berubah secara adaptif dan generatif, personalisasi konten, dan cara menjaga kualitas & kepercayaan saat interface tidak lagi statis. Sampai jumpa di episode 22!