Mendalami tahap discovery: membedah problem space, teknik wawancara user yang benar, dan opportunity sizing untuk memilih masalah yang layak dikerjakan. Di episode ini kalian menjalankan discovery research untuk fitur cek gejala Sehati, mulai dari membuat panduan interview hingga merangkum insight menjadi framing masalah yang siap masuk ke tahap definition

Setelah di episode 3 kita menjalankan design thinking end-to-end lewat sprint desain mini, pada episode ini kita masuk lebih dalam ke tahap pertama lifecycle: discovery. Inilah tahap yang paling membedakan product designer dari UI/UX designer — di sinilah kalian berburu masalah, bukan solusi.
Discovery sering dianggap "penundaan yang menyebalkan", padahal ini investasi dengan ROI tertinggi. Memperbaiki masalah yang salah itu membuang 100% usaha; menemukan masalah yang benar bahkan sebelum mendesain sudah menyelamatkan tim dari bencana. Di episode ini kita bedah tiga bagian discovery: problem space, user interviews, dan opportunity sizing — lalu mempraktikkannya di Sehati.
Sebelum wawancara, kalian harus tahu di mana masalah itu hidup. Problem space adalah seluruh konteks yang mengelilingi pengguna: perilaku, lingkungan, motivasi, dan faktor eksternal. Jangan mulai dari "bagaimana memperbaiki fitur X", tetapi dari "apa yang terjadi di kehidupan pengguna sebelum, saat, dan setelah memakai produk".
Untuk Sehati, problem space-nya bukan "layar booking dokter". Ia mencakup: kapan orang mulai merasa sakit, bagaimana mereka memutuskan perlu ke dokter, apa yang mereka takutkan (biaya, antrean, diagnosa), dan siapa yang mereka tanya pertama kali (Google, keluarga, aplikasi?). Fitur cek gejala lahir dari pertanyaan ini, bukan dari kebalikan-nya.
Diagram ini adalah peta perilaku kasar sebelum riset. Gunakan sebagai hipotesis kerja, bukan kebenaran — riset akan mengoreksinya.
Wawancara adalah alat discovery paling berharga — dan paling mudah salah digunakan. Tiga aturan emas:
1. Terakhir kali kalian merasa tidak enak badan, apa yang pertama kalian lakukan?
2. Bagaimana kalian memutuskan perlu ke dokter atau tidak? Ceritakan.
3. Apa yang paling membuat kalian khawatir saat konsultasi?
4. Pernah menunda ke dokter? Apa yang terjadi?
5. Kalau punya aplikasi kesehatan, bagian apa yang paling kalian percayai?Warning
Jangan tanya "apakah kalian mau fitur cek gejala di aplikasi?" — jawabannya selalu "ya" (social desirability) dan tidak memberi sinyal apa pun. Fokuskan pada perilaku nyata di masa lalu. Jawaban "tidak tahu" atau keheningan sering kali insight terbaik: itu tanda kalian menanyakan hal yang salah atau topik yang sensitif.
Wawancarai minimal 5-8 orang per segmen (misal pasien muda, orang tua pasien, dan dokter). Setelah sesi, transkripsi atau tulis ulang catatan, lalu tandai tema yang muncul berulang.
Tidak semua masalah layak dikerjakan. Opportunity sizing menilai masalah dari dua sumbu: besarnya dampak jika terpecahkan, dan banyaknya orang yang mengalaminya. Rumus sederhananya:
Opportunity = Jumlah user terdampak × Frekuensi masalah × SeverityContoh estimasi untuk fitur cek gejala Sehati:
| Faktor | Estimasi | Catatan |
|---|---|---|
| User terdampak | ~70% pasien baru | Berdasarkan interview: mayoritas cek gejala mandiri |
| Frekuensi | 1-2× per bulan | Setiap kali merasa sakit |
| Severity | Tinggi | Menunda konsultasi bisa memperburuk kondisi |
| Skor | Tinggi | Layak masuk roadmap fase 1 |
Sebaliknya, "fitur teman untuk mengingatkan minum obat" mungkin menarik secara emosional, tetapi jika hanya 2 dari 15 responden mengalaminya, opportunity-nya rendah — simpan untuk iterasi berikutnya.
Setelah riset, rangkum menjadi framing: pernyataan masalah yang sudah dikoreksi data. Bandingkan sebelum dan sesudah:
Pasien sulit mencari dokter terdekat saat sakit.Pasien muda menunda konsultasi karena tidak tahu gejala mereka
perlu dokter atau tidak, sehingga kondisi sering memburuk sebelum
mereka mencari bantuan profesional.Perhatikan perbedaannya: framing sesudah riset menyebut perilaku (menunda), alasan (tidak tahu), dan konsekuensi (memburuk). Inilah yang menjadi input tahap definition dan selaras dengan problem statement design thinking di episode 3.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 5 selanjutnya kita akan membahas product strategy & vision — cara menulis vision statement yang menggerakkan tim, menyusun strategi yang menjembatani visi dan eksekusi, serta menjaga alignment dengan bisnis. Pastikan framing Sehati kalian sudah rapi, karena vision statement akan mengarahkan semua keputusan desain berikutnya. Sampai jumpa di episode 5!