Menyusun product vision statement yang menggerakkan tim, menurunkan strategi produk dari visi ke arah eksekusi, dan menjaga alignment dengan bisnis. Di episode ini kalian menulis vision statement Sehati, menyusun pilar strategi, dan belajar membedakan strategi yang kuat dari sekadar daftar fitur

Setelah di episode 4 kita menemukan dan membingkai masalah melalui discovery research, pada episode ini kita menaikkan level pandangan: dari satu fitur ke arah produk secara keseluruhan. Di sinilah product designer sering kehilangan sebagian rekan kerjanya — karena topik ini terasa "bukan kerjaan desain". Padahal justru di sinilah letak nilai paling tinggi seorang product designer.
Tanpa vision dan strategy, produk berjalan seperti kapal tanpa tujuan: setiap orang menarik ke arah favoritnya, fitur menumpuk tanpa arah, dan tim berdebat tanpa dasar. Dengan visi yang jelas, setiap keputusan desain — besar atau kecil — bisa diuji dengan satu pertanyaan: "apakah ini mendekatkan kita ke visi?"
Vision statement menjawab "produk seperti apa yang ingin kita bawa ke dunia?" — jangka panjang, aspiratif, dan berpusat pada pengguna. Ia bukan target angka (itu goal), bukan daftar fitur (itu roadmap). Ciri vision yang baik: menggerakkan (inspiring), jauh (jangka waktu 3-5 tahun), dan fokus (menentukan apa yang TIDAK dikerjakan).
Template yang banyak dipakai:
[Menuju dunia di mana] [dampak pada pengguna] [melalui cara yang membedakan].Contoh vision untuk Sehati:
Menuju dunia di mana setiap orang bisa menilai kesehatan dirinya
sendiri dengan percaya diri — sebelum kondisinya menjadi serius —
melalui triase gejala yang tepercaya dan akses konsultasi yang cepat.Uji vision ini: apakah ia menyebut dampak pada manusia (percaya diri menilai kesehatan)? Ya. Apakah ia membedakan Sehati (triase gejala yang tepercaya)? Ya. Apakah ia menentukan arah non-negosiasi? Ya — Sehati bukan "aplikasi booking dokter biasa", melainkan mitra triase kesehatan.
Strategi menjawab "bagaimana kita sampai ke sana?" — keputusan alokasi sumber daya dan prioritas dalam jangka menengah. Strategi yang baik tidak menjawab semua: ia justru memilih dengan sadar apa yang tidak dikerjakan. Komponen strategi produk:
| Pilar | Deskripsi | Contoh inisiatif |
|---|---|---|
| Triase tepercaya | Membantu pasien menilai urgensi | Cek gejala, chatbot skrining |
| Akses cepat | Menghubungkan pasien dengan dokter | Booking 24/7, queue terukur |
| Kontinuitas perawatan | Menjaga pasien dalam perawatan | Pengingat obat, follow-up |
Tiga pilar ini menjaga fokus: ide fitur yang tidak mendukung salah satunya ditolak atau ditunda. Ini kekuatan utama strategi — memberi tim alasan untuk berkata tidak.
Strategi produk harus selaras dengan strategi bisnis, atau produk akan mati meski bagus. Hubungkan tiap pilar dengan metrik bisnis:
Saat alignment ini jelas, keputusan desain punya bahasa yang sama dengan PM dan stakeholder. Contoh: keputusan "tampilkan rekomendasi dokter di dalam hasil cek gejala" bisa dipertanggungjawabkan karena mendukung pilar triase dan metrik konversi konsultasi.
Tip
Salah satu cara tercepat menguji kualitas strategi: tanyakan ke tim "apa yang TIDAK akan kita kerjakan tahun ini?" Jika mereka tidak bisa menjawab, strateginya belum terbentuk. Di Sehati, jawabannya bisa "social features, marketplace obat, atau aplikasi untuk hewan peliharaan" — semua itu menarik, tapi tidak mendukung visi.
Sekarang giliran kalian. Buka halaman 01 Research di Figma dan jawab tiga pertanyaan:
Kemudian uji dengan kriteria: apakah vision menggerakkan? Apakah pilar fokus? Apakah keputusan "tidak" jadi mudah? Jika ya, kalian sudah punya kompas untuk seluruh episode berikutnya — dari IA di episode 6 hingga keputusan desain sistem di episode 8.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 6 selanjutnya kita akan membahas information architecture & flows — cara menyusun sitemap, user flows, dan journey design sehingga struktur Sehati benar-benar menuntun pengguna sesuai strategi yang baru saja kalian susun. Sampai jumpa di episode 6!