Belajar Product Designer - Product Strategy & Vision
Episode 5 of 28

Belajar Product Designer - Product Strategy & Vision

Menyusun product vision statement yang menggerakkan tim, menurunkan strategi produk dari visi ke arah eksekusi, dan menjaga alignment dengan bisnis. Di episode ini kalian menulis vision statement Sehati, menyusun pilar strategi, dan belajar membedakan strategi yang kuat dari sekadar daftar fitur

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 4 kita menemukan dan membingkai masalah melalui discovery research, pada episode ini kita menaikkan level pandangan: dari satu fitur ke arah produk secara keseluruhan. Di sinilah product designer sering kehilangan sebagian rekan kerjanya — karena topik ini terasa "bukan kerjaan desain". Padahal justru di sinilah letak nilai paling tinggi seorang product designer.

Tanpa vision dan strategy, produk berjalan seperti kapal tanpa tujuan: setiap orang menarik ke arah favoritnya, fitur menumpuk tanpa arah, dan tim berdebat tanpa dasar. Dengan visi yang jelas, setiap keputusan desain — besar atau kecil — bisa diuji dengan satu pertanyaan: "apakah ini mendekatkan kita ke visi?"

Vision Statement: Ke Mana Produk Pergi

Vision statement menjawab "produk seperti apa yang ingin kita bawa ke dunia?" — jangka panjang, aspiratif, dan berpusat pada pengguna. Ia bukan target angka (itu goal), bukan daftar fitur (itu roadmap). Ciri vision yang baik: menggerakkan (inspiring), jauh (jangka waktu 3-5 tahun), dan fokus (menentukan apa yang TIDAK dikerjakan).

Template yang banyak dipakai:

Template vision statement
[Menuju dunia di mana] [dampak pada pengguna] [melalui cara yang membedakan].

Contoh vision untuk Sehati:

Vision statement Sehati
Menuju dunia di mana setiap orang bisa menilai kesehatan dirinya
sendiri dengan percaya diri — sebelum kondisinya menjadi serius —
melalui triase gejala yang tepercaya dan akses konsultasi yang cepat.

Uji vision ini: apakah ia menyebut dampak pada manusia (percaya diri menilai kesehatan)? Ya. Apakah ia membedakan Sehati (triase gejala yang tepercaya)? Ya. Apakah ia menentukan arah non-negosiasi? Ya — Sehati bukan "aplikasi booking dokter biasa", melainkan mitra triase kesehatan.

Dari Visi ke Strategi

Strategi menjawab "bagaimana kita sampai ke sana?" — keputusan alokasi sumber daya dan prioritas dalam jangka menengah. Strategi yang baik tidak menjawab semua: ia justru memilih dengan sadar apa yang tidak dikerjakan. Komponen strategi produk:

  1. Target user: segmen mana yang dilayani duluan (episode 4 sudah membekalinya).
  2. Value proposition: nilai unik yang tidak bisa ditiru kompetitor.
  3. Focus areas: 2-3 pilar besar yang mendekatkan ke visi.
  4. Moats & keunggulan: apa yang membuat sulit ditiru (data klinis, jaringan dokter, trust).

Pilar Strategi Sehati

PilarDeskripsiContoh inisiatif
Triase tepercayaMembantu pasien menilai urgensiCek gejala, chatbot skrining
Akses cepatMenghubungkan pasien dengan dokterBooking 24/7, queue terukur
Kontinuitas perawatanMenjaga pasien dalam perawatanPengingat obat, follow-up

Tiga pilar ini menjaga fokus: ide fitur yang tidak mendukung salah satunya ditolak atau ditunda. Ini kekuatan utama strategi — memberi tim alasan untuk berkata tidak.

Alignment dengan Bisnis

Strategi produk harus selaras dengan strategi bisnis, atau produk akan mati meski bagus. Hubungkan tiap pilar dengan metrik bisnis:

100%

Saat alignment ini jelas, keputusan desain punya bahasa yang sama dengan PM dan stakeholder. Contoh: keputusan "tampilkan rekomendasi dokter di dalam hasil cek gejala" bisa dipertanggungjawabkan karena mendukung pilar triase dan metrik konversi konsultasi.

Tip

Salah satu cara tercepat menguji kualitas strategi: tanyakan ke tim "apa yang TIDAK akan kita kerjakan tahun ini?" Jika mereka tidak bisa menjawab, strateginya belum terbentuk. Di Sehati, jawabannya bisa "social features, marketplace obat, atau aplikasi untuk hewan peliharaan" — semua itu menarik, tapi tidak mendukung visi.

Praktik: Tulis Vision Sehati

Sekarang giliran kalian. Buka halaman 01 Research di Figma dan jawab tiga pertanyaan:

  1. Tulis vision statement Sehati versi kalian dengan template di atas.
  2. Tulis 2-3 pilar strategi dan satu inisiatif per pilar.
  3. Tulis satu baris "yang TIDAK akan kita kerjakan" dan alasannya.

Kemudian uji dengan kriteria: apakah vision menggerakkan? Apakah pilar fokus? Apakah keputusan "tidak" jadi mudah? Jika ya, kalian sudah punya kompas untuk seluruh episode berikutnya — dari IA di episode 6 hingga keputusan desain sistem di episode 8.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Vision statement menjawab ke mana produk pergi: aspiratif, jangka panjang, dan menentukan apa yang tidak dikerjakan.
  • Strategi menjembatani visi dan eksekusi: target user, value proposition, focus areas, dan moats.
  • Pilar strategi memberi tim alasan untuk berkata tidak.
  • Alignment visi-strategi-metrik-bisnis menjaga produk hidup dan relevan.
  • Strategi yang kuat bisa diuji lewat pertanyaan "apa yang tidak kita kerjakan?"

Di episode 6 selanjutnya kita akan membahas information architecture & flows — cara menyusun sitemap, user flows, dan journey design sehingga struktur Sehati benar-benar menuntun pengguna sesuai strategi yang baru saja kalian susun. Sampai jumpa di episode 6!

Belajar Product Designer - Product Strategy & Vision | Belajar Product Designer