Episode ini membahas hypervisor KVM di dalam Proxmox, cara mengunggah ISO ke storage lokal, konfigurasi VM dari CPU dan RAM hingga disk VirtIO dan bridge jaringan, lalu operasi lifecycle lengkap dari start sampai migrate.

Inilah momen yang kalian tunggu: membuat Virtual Machine pertama. Proxmox memakai KVM sebagai mesin virtualisasi utamanya, dan episode 3 akan menuntun kalian dari konsep dasar hingga VM berjalan dengan konfigurasi yang benar. Keputusan yang kalian buat di halaman wizard — CPU type, RAM, disk, dan jaringan — menentukan performa VM untuk jangka panjang.
Kita akan membahas cara kerja KVM, mengunggah ISO ke storage, mengisi wizard pembuatan VM dengan pilihan yang tepat, lalu menjalankan seluruh operasi lifecycle: start, stop, shutdown, reset, pause, suspend, hingga migrate. Setelah episode ini, kalian bisa membuat VM secara percaya diri.
KVM adalah modul virtualisasi yang terintegrasi langsung ke kernel Linux. Dengan dukungan hardware virtualization Intel VT-x atau AMD-V, KVM membuat Linux berfungsi sebagai hypervisor tipe-1 — berjalan langsung di atas hardware, tanpa lapisan sistem operasi tambahan. QEMU menyediakan emulasi perangkat, sementara KVM menangani eksekusi instruksi secara native.
Karena KVM berada di dalam kernel yang sama dengan sistem Proxmox, overhead virtualisasi sangat rendah — VM berjalan dengan performa mendekati bare-metal.
Sebelum membuat VM, kalian butuh image sistem operasi. Unduh ISO Ubuntu atau Debian dari situs resminya, lalu unggah ke Proxmox melalui local -> ISO Images -> Upload. Alternatifnya, unggah lewat CLI dengan scp:
scp ubuntu-24.04.iso root@<IP-PROXMOX>:/var/lib/vz/template/iso/File di folder /var/lib/vz/template/iso/ otomatis muncul di web UI sebagai ISO yang tersedia untuk dipakai.
Klik Create VM, isi VM ID dan nama. Di bagian OS, pilih ISO yang tadi diunggah dan type guest. Bagian penting berikutnya adalah CPU:
Sockets : 1
Cores : 2
Type : host (recommended) atau x86-64-v2-AESCPU Type host meneruskan semua fitur CPU fisik ke VM — performa terbaik, ideal untuk beban berat dan aplikasi yang peka instruksi. kvm64 dan x86-64-v2-AES lebih portabel antar node dengan CPU berbeda, berguna jika kalian ingin memigrasi VM antar hardware yang tidak identik.
Atur RAM sesuai kebutuhan guest. Aktifkan ballooning agar RAM yang tidak terpakai VM bisa dikembalikan ke host dan dipakai VM lain saat dibutuhkan. Di host, kalian bisa melihat alokasi dinamis ini lewat qm set 100 -balloon 2048.
Proxmox menawarkan dua chipset: q35 modern yang mendukung UEFI, PCIe, dan perangkat modern lainnya, serta i440fx yang kompatibel dengan sistem operasi lama. Untuk semua VM baru, pilih q35 — kecuali kalian punya alasan kompatibilitas yang jelas.
Untuk disk, pilih VirtIO SCSI sebagai bus — ini driver paravirtualized yang memberikan performa terbaik dibanding emulasi SATA atau IDE. Set ukuran disk sesuai kebutuhan dan pilih storage tempat disk berada.
ls -lh /var/lib/vz/images/100/File vm-100-disk-0.qcow2 atau .raw adalah representasi virtual disk di storage.
Pengaturan penting lainnya: Cache mode none dengan discard aktif direkomendasikan untuk disk modern dan mendukung TRIM. Aktifkan SSD emulation jika host storage berbasis SSD agar guest melakukan optimasi yang tepat. Kombinasi ini menghasilkan I/O yang lebih efisien tanpa menyembunyikan kegagalan daya.
Warning
Hindari cache mode writeback untuk data penting. Mode ini menunda penulisan ke disk fisik dan berisiko kehilangan data saat power loss. Gunakan none atau writeback hanya jika memahami konsekuensinya.
Untuk jaringan, gunakan VirtIO NIC — lagi-lagi karena performa terbaik. Pilih bridge yang tersedia, biasanya vmbr0 yang menghubungkan VM ke jaringan fisik. Jika kalian sudah punya beberapa bridge, pilih sesuai segmen jaringan yang diinginkan.
Bridge : vmbr0
VLAN Tag: (kosong untuk akses tanpa tag)
Model : VirtIOSetelah VM dibuat dan sistem operasi terinstall, kalian mengendalikannya dari tombol-tombol lifecycle:
qm start 100
qm shutdown 100
qm stop 100
qm listqm list menampilkan daftar semua VM di node beserta statusnya. Kebiasaan baik: selalu gunakan shutdown dulu, baru stop jika tidak ada respons.
Episode 3 menempatkan kalian di kursi pengemudi: memahami KVM sebagai hypervisor tipe-1, mengunggah ISO, mengkonfigurasi VM dengan CPU type yang tepat, RAM ballooning, chipset q35, disk VirtIO SCSI, dan NIC VirtIO, serta menguasai seluruh operasi lifecycle VM.
Inti yang harus dibawa pulang:
/var/lib/vz/template/iso/ sebelum membuat VM.host untuk performa, kvm64 untuk portabilitas.none dengan discard lebih aman daripada writeback.Di episode 4 selanjutnya kita akan membahas Cloud-Init, VM Templates, dan Rapid Provisioning — mengapa instalasi OS manual tidak efisien di skala besar, cara mengkonfigurasi VM otomatis saat pertama boot, membuat template dengan qemu-guest-agent dan cloud-init, hingga perbedaan full clone dan linked clone untuk spin-up VM dalam hitungan detik. Persiapkan sebuah VM Ubuntu sebagai bahan percobaan!