Episode ini menelusuri asal-usul Samba: Andrew Tridgell yang melakukan reverse engineering protokol SMB pada 1992 demi interoperabilitas Unix-Windows, evolusinya menjadi proyek di bawah Software Freedom Conservancy, dan lahirnya Samba 4 (2012) yang menyatukan file server dengan Domain Controller Active Directory. Kalian juga memahami mengapa Samba dibutuhkan untuk integrasi Windows, berbagi antar Linux, dan NAS enterprise tanpa lisensi Windows Server.

Setelah environment kalian siap di episode 0, sekarang kita mundur sejenak untuk memahami mengapa Samba ada dan mengapa kalian membutuhkannya. Semua tool yang akan kita pelajari — smbd, samba-tool, winbindd — lahir dari satu masalah sederhana: bagaimana menghubungkan mesin Unix dengan dunia Windows yang dominan di dunia kerja. Sejarah ini bukan trivia; ia menjelaskan setiap keputusan desain yang akan kalian temui mulai episode 2.
Pada tahun 1992, Andrew Tridgell — mahasiswa di Australia — frustrasi karena tidak bisa mengakses filesystem server DEC yang memakai protokol SMB dari mesin Linux-nya. Daripada menyerah, ia merekayasa ulang protokol tersebut dengan network analyzer, menangkap lalu mempelajari paket-paket SMB yang mengalir di jaringan. Hasilnya adalah "SMBserver", program sederhana yang akhirnya menjadi Samba. Nama Samba sendiri dipilih karena harus mengandung huruf "SMB" — dan samba terdengar pas sebagai nama tarian Brasil yang hidup.
Inilah filosofi yang masih melekat hingga kini: interoperabilitas lewat pemahaman protokol, bukan kompatibilitas parsial. Samba bukan emulator Windows — ia berbicara protokol yang sama, sehingga klien Windows tidak bisa membedakannya dari server Microsoft asli.
Protokol SMB dijadikan standar terbuka CIFS (Common Internet File System) sejak 1992 dan terus dievolusi Microsoft menjadi SMB2 dan SMB3. Samba tumbuh dari proyek personal menjadi proyek kolaboratif global yang dikelola di bawah naungan Software Freedom Conservancy — organisasi nirlaba yang menjaga aset hukum, lisensi, dan governance proyek open source. Ini memberi kepastian bahwa Samba tetap bebas dan tidak akan tiba-tiba berubah lisensi.
Titik balik terbesar terjadi tahun 2012 dengan rilis Samba 4. Sebelumnya Samba hanya menjadi member domain Windows — bergantung pada Domain Controller Windows untuk autentikasi. Samba 4 menambahkan kemampuan menjadi Domain Controller Active Directory sendiri, dengan layanan DNS dan replikasi terintegrasi. Artinya, sebuah domain AD bisa berjalan penuh di atas Linux tanpa satu pun server Windows. Series 4.24 (2026) melanjutkan warisan ini — current stable 4.24.5 rilis 28 Juli 2026.
Kronologi singkatnya:
1992 Andrew Tridgell reverse engineering SMB (protokol lahir)
1992 SMB distandarkan sebagai CIFS
2012 Samba 4: file server + AD DC menyatu
2019 Samba 4.11: SMB1 nonaktif default
2026 Series 4.24: current stable 4.24.5Perhatikan pola besarnya: setiap generasi Samba memperluas posisinya — dari peniru protokol menjadi implementasi interoperable, lalu menjadi penyedia layanan domain. Evolusi ini yang membuat Samba tetap relevan 34 tahun kemudian.
Alasan paling umum: kalian punya aplikasi di Linux yang harus berbagi file dengan pengguna Windows, atau server Linux yang harus menerima user Windows. Dengan Samba, folder Linux muncul di Explorer Windows sebagai \\server\share — transparan, tanpa mengubah kebiasaan user. Bahkan printer Unix bisa dibagikan ke jaringan Windows (episode 7).
Kalian mungkin berpikir "Linux kan punya NFS". Benar, tapi NFS tidak paham Windows dan kadang bermasalah di jaringan dengan klien campuran. Samba memberikan satu bahasa bersama: klien Linux juga bisa memakai smbclient dan mount -t cifs untuk mengakses share Samba (episode 6). Di environment heterogen — separuh mesin Windows, separuh Linux — Samba adalah titik temu yang paling sedikit gesekannya.
Samba adalah tulang punggung banyak NAS enterprise: Synology, QNAP, dan appliance lain memakai Samba untuk layanan SMB mereka. Dengan Samba, kalian membangun NAS sendiri dengan perangkat keras bebas dan sistem operasi bebas — termasuk fitur AD DC untuk menggantikan Windows Server pada skala kecil-menengah (episode 9). Biaya lisensi per-CPU Windows Server yang mahal bisa dialihkan ke hardware dan kapasitas.
Agar pemahaman kalian utuh, jujur juga soal batasannya:
Samba bukan "Windows Server gratisan" untuk semua kasus — ia adalah tool yang tepat untuk kasus interoperabilitas file, print, dan domain. Mengetahui kapan memakainya dan kapan tidak adalah bagian dari menjadi administrator yang matang. Sebagai contoh, bayangkan sebuah kantor kecil dengan lima mesin Windows dan satu server Linux: Samba membuat kelima mesin itu berbagi folder dan printer yang sama dalam satu jam tanpa biaya lisensi — skenario yang persis menjadi alasan proyek ini dimulai tiga dekade lalu.
Tip
Cara terbaik memahami sejarah Samba adalah dengan menjalankan rilisnya. Setelah episode 3, cek smbd --version — jika menampilkan 4.24.5, berarti kalian memakai turunan langsung dari kode yang dilahirkan eksperimen Tridgell tahun 1992. Sejarah yang bisa kalian jalankan.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membongkar konsep dasar & arsitektur utama: daemon smbd, nmbd, dan winbindd, dialek protokol SMB 1/2/3 (dengan SMB3 sebagai default dan SMB1 nonaktif sejak 4.11), serta komponen config /etc/samba/smb.conf dan tool smbclient, samba-tool, smbpasswd, dan testparm. Ini fondasi teknis yang akan dipakai di semua episode berikutnya!