Mengelola identitas dan akses sebagai sysadmin: user lifecycle dari onboarding sampai offboarding, RBAC, group policy, dan multi-factor auth, lalu praktik mengelola user & permission secara terpusat di Linux dan Active Directory.

Di episode 3 dan 4 kalian sudah membuat user di Linux dan Active Directory. Episode 5 menaikkan level: dari sekadar "membuat user" menjadi mengelola identitas dan akses secara sistematis — disiplin yang dikenal sebagai IAM (Identity and Access Management).
Mengapa topik ini terpisah? Karena user yang tidak dikelola dengan benar adalah pintu masuk terbesar masalah keamanan: akun karyawan yang sudah keluar masih aktif, user dengan akses terlalu luas, atau password yang tidak pernah kedaluwarsa. IAM adalah tempat sysadmin mencegah masalah sebelum menjadi insiden.
Setiap akun melewati siklus hidup. Sysadmin yang baik mengotomasi dan melacak seluruh siklus ini — bukan sekadar membuat akun saat onboarding.
| Tahap | Aktivitas | Alat |
|---|---|---|
| Provisioning | Buat akun, grup, home dir, akses awal | AD, LDAP, script provisioning |
| Operational | Reset password, ubah akses, ubah grup | Helpdesk tools, self-service |
| Review | Audit siapa punya akses apa | Laporan berkala |
| De-provisioning | Hapus/disable akun, cabut akses saat offboarding | Script offboarding |
Poin terpenting ada di de-provisioning: akun karyawan yang keluar harus segera di-disable — bukan dihapus (data dan audit trail-nya masih dibutuhkan). Keterlambatan sehari saja bisa menjadi celah keamanan.
# Onboarding
sudo useradd -m -s /bin/bash sinta
sudo usermod -aG developers sinta
sudo mkdir -p /srv/dev/sinta
sudo chown sinta:developers /srv/dev/sinta
# Offboarding: disable dulu, jangan langsung hapus
sudo usermod -L sinta
sudo usermod --expiredate 1 sintausermod -L mengunci password, dan --expiredate 1 membuat akun kadaluwarsa — kombinasi aman untuk mematikan akses tanpa menghapus data.
RBAC (Role-Based Access Control) berarti: akses diberikan berdasarkan peran, bukan per-user. Karyawan "Budi" di departemen Finance mendapat akses ke peran "Finance-ReadOnly", bukan daftar 12 folder satu per satu.
Keuntungannya:
Penerapan nyata di Linux dengan group sebagai "peran":
sudo groupadd finance-ro
sudo usermod -aG finance-ro budi
sudo chgrp -R finance-ro /srv/finance
sudo chmod -R g+rx /srv/financeDi Active Directory, peran hidup sebagai security group, dan akses diberikan ke group tersebut:
New-ADGroup -Name "Finance-RO" -GroupScope Global -Path "OU=Groups,DC=lab,DC=local"
Add-ADGroupMember -Identity "Finance-RO" -Members budiImportant
Jangan pernah memberi akses ke satu user langsung ke resource sensitif. Selalu lewat group. Jika nanti audit menemukan "user X punya akses Y", jawabannya harus "karena X di group Z" — bukan "karena dulu diminta atasan". Group adalah satu-satunya cara akses bisa di-review secara masuk akal.
Group Policy (dari episode 4) adalah alat untuk menegakkan kebijakan akses di Windows: password policy, account lockout, restricted groups, hingga mengatur siapa yang boleh login ke mesin tertentu. Contoh yang paling sering diatur:
| Kebijakan | Nilai Umum | Alasan |
|---|---|---|
| Minimum password length | 12+ karakter | Menaikkan biaya serangan brute force |
| Account lockout threshold | 5 percobaan | Menghambat serangan password |
| Maximum password age | 90 hari | Membatasi masa pakai kompromi |
| MFA enforcement | Enabled | Lapis keamanan kedua |
Password saja tidak cukup di 2026 — kebocoran kredensial terlalu umum. MFA menambahkan faktor kedua (TOTP app, perangkat fisik, atau biometrik) sehingga kompromi password saja tidak cukup untuk masuk.
Penerapan MFA di lingkungan Windows umumnya lewat layanan seperti Microsoft Entra ID (Azure AD) dengan Conditional Access; di lingkungan self-hosted sering dipakai FreeIPA + FreeOTP, atau TOTP via libpam-google-authenticator di Linux.
sudo apt install -y libpam-google-authenticator
google-authenticatorPanduan interaktif ini menghasilkan secret & QR code; tambahkan baris auth required pam_google_authenticator.so di /etc/pam.d/sshd dan set ChallengeResponseAuthentication yes di /etc/ssh/sshd_config, lalu restart sshd. Kita perkuat lagi topik SSH di episode 18.
Tip
Aturan praktis MFA: selalu aktifkan untuk admin dan akses remote. Untuk user biasa, aktifkan bertahap mulai dari akun berisiko tinggi (finance, HR, manajemen). Jangan lupa menyediakan kode recovery — user yang terkunci di luar karena kehilangan phone adalah tiket paling tidak menyenangkan.
Satukan semua konsep: buat peran, isi user, terapkan, lalu audit.
# 1. Definisikan peran sebagai group
sudo groupadd developers
# 2. Isi user ke peran
sudo usermod -aG developers budi sinta
# 3. Terapkan permission ke resource via group
sudo chgrp -R developers /srv/app && sudo chmod -R g+rw /srv/app
# 4. Audit: siapa yang punya akses ke resource ini
getent group developersAudit dengan getent group developers adalah kebiasaan yang akan kalian ulang terus: satu baris untuk tahu siapa saja punya akses ke sebuah resource.
Inti yang harus dibawa pulang dari episode 5:
Di episode 6 selanjutnya kita akan membahas Networking Fundamentals for Sysadmin — IP, DNS, DHCP, VLAN, firewall, VPN, dan troubleshooting jaringan dari sisi sysadmin, dengan praktik mendiagnosa konektivitas di lab dua server kalian. Pastikan tetap semangat, karena pemahaman jaringan akan mewarnai hampir semua episode berikutnya!