Episode ini membahas exit node untuk routing semua traffic keluar melalui satu server, dan subnet router untuk menjembatani jaringan lokal ke tailnet, lengkap dengan setup --advertise-exit-node, --advertise-routes, dan --accept-routes.

Hingga episode 8, semua traffic antar node mengalir di dalam tailnet. Tapi ada dua kebutuhan yang sering muncul: ingin internet keluar lewat jalur lain (misalnya lewat VPS di luar negeri), dan ingin menjangkau perangkat yang tidak bisa menginstall Tailscale (printer, CCTV, mesin tua di LAN rumah). Dua fitur inilah yang dibahas sekarang: exit nodes dan subnet routers.
Episode 9 membahas cara kerja, setup, dan kasus penggunaan keduanya. Setelah episode ini, kalian bisa mengubah node biasa menjadi gerbang jaringan yang kuat.
Exit node adalah node Tailscale yang dipakai meneruskan seluruh traffic keluar ke internet. Saat kalian memilih exit node, traffic dari perangkat kalian (misalnya laptop) di-route ke node tersebut, lalu keluar ke internet dari sana. Manfaatnya:
Di sisi server, iklankan kemampuan exit node:
sudo tailscale up --advertise-exit-nodePerintah sudo tailscale up --advertise-exit-node memberi tahu control plane bahwa node ini bersedia menjadi exit node. Pada tailnet dengan approval ketat, admin perlu mengizinkannya di admin console.
Di sisi client, pilih exit node:
sudo tailscale set --exit-node=vps-singapore
tailscale statusUntuk melihat daftar exit node yang tersedia:
tailscale exit-node listOutput tailscale exit-node list menampilkan semua node yang iklankan --advertise-exit-node. Untuk menonaktifkan, setel ulang ke kosong: sudo tailscale set --exit-node=.
Subnet router adalah node yang menjembatani jaringan lokal ke tailnet. Node ini mengiklankan subnet-nya (misalnya 192.168.1.0/24), dan node lain di tailnet yang mengaktifkan --accept-routes bisa langsung mengakses perangkat di subnet tersebut — seolah-olah mereka berada di LAN yang sama. Ini berguna untuk menjangkau perangkat yang tidak bisa menginstall Tailscale.
Di node yang terhubung ke LAN (biasanya router, Raspberry Pi, atau server rumah):
sudo tailscale up --advertise-routes=192.168.1.0/24Jika sudah aktif, gunakan tailscale set:
sudo tailscale set --advertise-routes=192.168.1.0/24Perintah sudo tailscale set --advertise-routes=192.168.1.0/24 mengiklankan subnet tersebut ke seluruh tailnet. Di admin console, kalian perlu menyetujui route baru yang diiklankan.
Di perangkat client, terima route yang diiklankan:
sudo tailscale set --accept-routes=trueSetelah itu, dari client kalian bisa mengakses perangkat LAN:
ping 192.168.1.50
ssh devnull@192.168.1.20Node lain yang tidak mengaktifkan --accept-routes tidak akan bisa mencapai subnet tersebut — pengaturan per-device yang fleksibel.
Agar subnet router berfungsi, sistem operasi harus meneruskan paket. Di Linux:
sudo sysctl -w net.ipv4.ip_forward=1
sudo sysctl -w net.ipv6.conf.all.forwarding=1Dan pastikan firewall tidak memblokir forwarding antar interface. Langkah ini yang paling sering terlupakan saat subnet router tidak berfungsi.
Uji dari client setelah semuanya aktif:
tailscale ping 192.168.1.20
ping 192.168.1.50tailscale ping 192.168.1.20 memverifikasi bahwa route diterima dan paket sampai ke perangkat di subnet.
Exit node dan subnet router adalah dua fitur yang mengubah Tailscale dari sekadar VPN menjadi jaringan yang fleksibel: internet bisa keluar lewat node pilihan, dan jaringan lokal bisa terhubung ke tailnet tanpa menginstall apa pun di setiap perangkat.
Episode 9 melengkapi kemampuan routing kalian: exit node untuk kontrol keluar ke internet dan subnet router untuk membawa LAN lokal ke dalam tailnet.
Inti yang harus dibawa pulang:
--advertise-exit-node di server, --exit-node= di client.tailscale exit-node list menampilkan opsi yang tersedia.--advertise-routes.--accept-routes=true untuk memakai route itu.Di episode 10 selanjutnya kita akan membahas MagicDNS dan DNS management secara mendalam — resolusi hostname otomatis, DNS search domain .ts.net, akses HTTPS internal via MagicDNS, serta konfigurasi custom DNS nameserver dan split DNS untuk domain internal.