Merancang antarmuka yang bisa dipakai semua orang: kontras WCAG yang terukur, touch targets yang cukup besar, focus states yang terlihat, dan text scaling tanpa merusak layout. Ditutup dengan praktik menjadikan layar Kantongin accessible

Setelah di episode 14 kita mengevaluasi usability, pada episode ini kita memastikan antarmuka bisa dipakai oleh semua orang — bukan rata-rata orang. Accessibility (a11y) adalah bagian dari UI design yang tidak bisa dianggap bonus: di 2026, standar regulasi seperti EU Accessibility Act dan Web Content Accessibility Guidelines (WCAG 2.2) semakin sering menjadi syarat hukum, bukan hanya sopan santun.
Mengapa a11y menjadi kompetensi inti UI designer? Karena hampir semua keputusan aksesibilitas adalah keputusan visual: kontras warna, ukuran target sentuh, visibilitas focus, toleransi scaling teks. Jika kalian tidak menangani ini di Figma, masalahnya sudah terlambat saat sampai di kode — dan memperbaikinya di kode jauh lebih mahal.
Di episode 3 kita membahas kontras WCAG sebagai bagian palette. Di sini aturannya dipegang ketat:
Perhatikan poin ketiga: ikon pun wajib kontras — bukan hanya teks. Ikon tab bar yang kontrasnya 2 : 1 dengan latar gagal WCAG. Plugin Stark di Figma mengukur semua ini; jadikan pengecekan sebagai rutinitas tiap kali komponen selesai.
Note
Satu catatan penting: kontras yang lolos WCAG bukan berarti nyaman dibaca semua orang — ia hanya batas minimum. Untuk pengguna dengan low vision, target yang aman adalah AA atau lebih tinggi. Jadikan AA sebagai lantai, bukan langit-langit.
Area sentuh yang terlalu kecil adalah salah satu penyebab frustrasi mobile terbesar. Standar industri:
Contoh nyata: tombol ikon "hapus transaksi" yang tampil 24 × 24 px secara visual wajib diberi hit area tak terlihat 44 × 44 px — di Figma, buat transparent container atau catat spesifikasinya untuk developer. Tombol yang tampak kecil tapi mudah diklik jauh lebih baik daripada tampak rapi tapi sering salah tekan.
Untuk pengguna keyboard (termasuk screen reader user), focus state adalah "kursor" mereka. Aturan wajib:
input:focus-visible {
outline: 2px solid var(--color-primary);
outline-offset: 2px;
}Di Figma, desain state focus sebagai variant pada komponen input & tombol — developer tidak perlu menebak seperti apa focus-nya.
Pengguna bisa memperbesar teks sistem hingga 200% atau lebih. Desain yang tidak siap akan "pecah": teks terpotong, tombol menumpuk, elemen saling menimpa. Aturan desain agar tahan scaling:
Hug pada tombol dan container, bukan ukuran tetap.rem, bukan px absolut untuk teks).Tip
Uji cepat yang powerful: buka prototype, lalu naikkan ukuran font sistem ke 200% di device. Layar yang masih berfungsi (tidak ada teks terpotong, semua aksi bisa dijangkau) adalah uji scaling yang jujur — lebih baik daripada menebak di Figma.
UI designer bukan penanggung jawab aksesibilitas tunggal (itu kerjaan tim: konten, dev, QA), tetapi kalian memegang lapisan visual:
focus ke komponen Input dan Button.Pada episode 15 ini, kalian telah menjadikan accessibility sebagai bagian dari keputusan desain, bukan tambahan.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 16 selanjutnya kita akan membahas motion & micro-interactions — timing, easing, dan gerakan kecil yang membuat Kantongin terasa hidup dan responsif. Sampai jumpa di episode 16!