Menguasai fitur inti Figma yang membedakan UI designer produktif dari yang asal klik: Auto layout untuk struktur yang hidup, components dan variants untuk elemen yang reusable, styles untuk konsistensi, serta prototyping dasar. Ditutup dengan praktik mendesain satu layar lengkap Kantongin

Setelah di episode 5 kita tahu apa yang ingin disusun — grid dan spacing — pada episode ini kita belajar bagaimana mengeksekusinya di Figma dengan benar. Sebagian besar desainer pemula menggambar layer demi layer; UI designer profesional membangun struktur yang hidup: yang bisa diubah ukurannya, diulang, dan disinkronkan.
Mengapa Figma mastery penting? Karena tools menentukan seberapa mahal sebuah iterasi. Dengan Auto layout, mengubah isi kartu tidak merusak jarak sekitarnya. Dengan components, memperbaiki tombol sekali otomatis memperbaiki semua kemunculannya. Alur kerja ini bukan kemewahan — di skala produk nyata, tanpa struktur hidup, perubahan kecil jadi proyek seharian.
Auto layout (shortcut Shift + A) mengubah frame menjadi container fleksibel yang mengatur jarak anak elemen secara otomatis. Atribut utamanya:
Hug (menyesuaikan isi) atau Fill (mengisi induk).Contoh: tombol Kantongin dibangun sebagai Auto layout horizontal dengan padding, dan saat label berubah, tombol ikut melebar:
[ Auto layout H │ gap 8 │ padding 16/12 ]
[ikon +] [ Simpan target ]
→ saat label jadi "Simpan target sekarang"
tombol otomatis memanjang tanpa menimpa elemen lainPrinsip berlapis: frame layar = Auto layout vertical berisi kartu = Auto layout vertical berisi baris = Auto layout horizontal. Seluruh layar menjadi satu sistem, bukan kumpulan koordinat.
Component adalah elemen yang dibuat sekali lalu dipakai berulang (instance). Ketika master-nya diubah, semua instance mengikuti. Inilah mesin konsistensi UI (prinsip repetition episode 2 dieksekusi).
Variants mengelompokkan state atau ukuran satu komponen dalam satu tempat: tombol dengan state default, hover, pressed, disabled. Ini juga yang membuat prototype stateful (episode 12) dan handoff (episode 13) jauh lebih rapi.
Button (component)
├── Variant: Size → sm / md / lg
└── Variant: State → default / hover / pressed / disabledKetika developer butuh spesifikasi, ia cukup melihat satu komponen dengan semua variannya — bukan mencari lima layer berbeda di lima layar.
Tip
Aturan sehat: jadikan elemen komponen bila ia muncul lebih dari dua kali. Jangan over-component sejak awal — terlalu banyak komponen untuk elemen yang belum jelas bentuknya justru memperlambat iterasi di fase eksplorasi.
Styles menyimpan nilai berulang di satu tempat: color styles (palette episode 3), text styles (type system episode 4), dan effect styles (shadow). Bedanya dengan komponen: styles hanya membawa nilai, bukan struktur.
Ketika primary berubah dari ungu ke biru, satu edit pada color style primary/500 menyebar ke seluruh file. Tanpa styles, kalian akan mengganti warna secara manual di puluhan layer — rawan terlewat satu.
F) — kanvas berstruktur; berbeda dengan shape biasa.Shift + A) — fondasi semua struktur.Bahkan di episode 6 ini, kalian sudah bisa membuat prototype pertama: pilih frame layar A → tombol Prototype di panel kanan → seret handle dari tombol ke layar B. Interaksi sederhana navigate antar layar sudah cukup untuk menguji alur secara kasar; animasi & detail transisi akan kita dalami di episode 12.
Gunakan semua yang sudah dipelajari untuk mendesain ulang layar beranda Kantongin secara struktural:
390 × 844 dengan grid 4 kolom (episode 5).Fill agar menempati setengah lebar.Cek terakhir: ubah saldo dari 2.450.000 menjadi 99.000.000 — apakah layout tetap rapi tanpa edit manual? Jika ya, struktur hidup kalian berhasil.
Detach instance) tanpa alasan — konsistensi hilang, perubahan tidak menyebar.Pada episode 6 ini, kalian telah menguasai mesin utama Figma: Auto layout, components & variants, dan styles.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 7 selanjutnya kita akan membahas icons & illustration — icon grid, stroke consistency, dan membangun icon set yang seragam untuk Kantongin. Sampai jumpa di episode 7!