Mempelajari 10 heuristics usability Nielsen dan cara menerapkannya dalam evaluasi praktis, lalu melakukan heuristic evaluation pada prototype JagaKota untuk menemukan masalah antarmuka tanpa perlu melibatkan user.

Setelah di episode 7 kita membuat prototype JagaKota, muncul pertanyaan klasik: "apa kabar prototype ini?" Menjawabnya dengan usability testing (episode 12) butuh user dan waktu. Ada cara yang jauh lebih cepat untuk menemukan masalah besar: heuristic evaluation — menilai antarmuka terhadap 10 prinsip kunci yang dirumuskan Jakob Nielsen.
Mengapa penting? Karena sebagian besar masalah usability bisa ditemukan hanya dengan melihat — tanpa user, tanpa lab, tanpa biaya. Heuristics adalah kacamata yang membuat kalian melihat masalah yang selama ini tak terlihat.
Sistem harus selalu memberi tahu pengguna apa yang terjadi. Untuk JagaKota: setelah menekan KIRIM, tampilkan spinner lalu nomor laporan — bukan layar diam yang membuat pengguna ragu apakah laporan terkirim.
Gunakan bahasa pengguna, bukan istilah teknis. "Laporan sedang dalam proses tinjauan" lebih jelas daripada "Status: PENDING_VALIDATION". Icon dan metafora harus familier.
Pengguna harus bisa membatalkan dan keluar kapan saja. Di JagaKota, tombol "Batalkan" dan "Kembali" yang jelas; jangan memaksa pengguna menyelesaikan form panjang tanpa jalan keluar.
Elemen yang sama harus berperilaku sama. Jika semua tombol aksi berwarna hijau, jangan tiba-tiba ada aksi destruktif berwarna hijau. Ikuti konvensi platform (detail di episode 16).
Lebih baik mencegah daripada mengobati. Konfirmasi lokasi sebelum kirim lebih baik daripada menolak laporan karena alamat invalid di akhir.
Tampilkan pilihan, jangan paksa mengingat. Dropdown kategori lebih baik daripada kolom teks bebas "tulis kategori".
Akomodasi pemula dan power user. Shortcut, autofill, dan aksi lanjutan (misal "lapor ulang masalah yang sama") mempercepat pengguna berpengalaman.
Hapus yang tidak relevan. Setiap elemen ekstra bersaing memperebutkan perhatian (konsep cognitive load di episode 10).
Error message harus jelas: apa yang salah, mengapa, dan bagaimana memperbaikinya. "Terjadi kesalahan" tidak berguna; "Foto terlalu besar (maks 5 MB), kompres lalu coba lagi" berguna.
Meski sistem idealnya tak butuh bantuan, sediakan akses bantuan kontekstual. FAQ JagaKota tentang "berapa lama laporan diproses?" harus mudah ditemukan.
Prosedur standar:
0 = Bukan masalah usability
1 = Masalah kosmetik, perbaiki jika ada waktu
2 = Masalah minor, prioritas rendah
3 = Masalah mayor, harus diperbaiki
4 = Masalah katastropik, blokir penggunaanContoh hasil evaluasi JagaKota:
H1 visibility — SETELAH KIRIM, layar diam 2 detik tanpa feedback. (S3)
H5 error prevention — LOKASI salah pilih baru terdeteksi setelah kirim. (S3)
H9 error recovery — ERROR UPLOAD tidak menjelaskan penyebab. (S2)
H2 real world — LABEL "pemerintah kota" vs "petugas lapangan" membingungkan. (S2)Warning
Heuristic evaluation bukan pengganti usability testing. Ia menemukan masalah yang bisa dilihat, tapi tidak mengungkap masalah yang hanya muncul saat user mencoba menyelesaikan tugas nyata — seperti kebingungan yang berakar pada asumsi yang salah tentang alur. Gunakan keduanya: heuristics dulu (cepat, murah), usability test setelahnya (validasi).
| Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|
| Cepat dan murah | Bergantung pada keahlian evaluator |
| Bisa dilakukan sebelum ada user | Tidak memberi data perilaku nyata |
| Menemukan masalah konsistensi lintas layar | Bisa menghasilkan temuan yang tidak semua relevan |
Kombinasi terbaik: 3-5 evaluator (Nielsen menemukan 3 evaluator menemukan ~60% masalah), lalu validasi temuan dengan usability test.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 9 selanjutnya kita akan membahas accessibility dan inclusive design — WCAG, bahasa inklusif, dan merancang untuk semua kemampuan — dan melakukan audit inklusivitas pada JagaKota. Sampai jumpa di episode 9!