Memahami accessibility melalui standar WCAG, bahasa inklusif, dan desain untuk semua kemampuan, lalu melakukan audit inklusivitas pada JagaKota dengan cek kontras, target sentuh, dan dukungan screen reader.

Setelah di episode 8 kita mengevaluasi prototype JagaKota dengan heuristics, saatnya membahas dimensi yang sering dianggap "nice to have" padahal non-negotiable: accessibility. Aksesibilitas bukan fitur bonus untuk segelintir orang — ia fondasi yang membuat produk bisa dipakai oleh semua orang, dalam semua kondisi.
Mengapa penting? Karena pengalaman pengguna yang baik tidak ada artinya jika tidak bisa diakses. Warga JagaKota tidak hanya terdiri dari orang muda bermata normal dengan koneksi cepat — ada lansia dengan rabun, pengguna screen reader, dan warga dengan tremor yang kesulitan menekan tombol kecil. Inklusivitas dimulai dari sadar bahwa "user rata-rata" itu tidak ada.
WCAG (Web Content Accessibility Guidelines) adalah standar internasional yang menjadi rujukan hukum di banyak negara. Strukturnya empat prinsip — POUR:
| Prinsip | Arti | Contoh Pelanggaran |
|---|---|---|
| Perceivable | Informasi bisa ditangkap indra | Kontras teks terlalu rendah |
| Operable | Bisa dioperasikan semua alat | Tidak bisa dinavigasi keyboard |
| Understandable | Mudah dimengerti | Error message membingungkan |
| Robust | Tahan uji berbagai teknologi | Label form tidak terhubung ke input |
Tingkat kesesuaian: A (minimum), AA (standar target), AAA (maksimal). Target industri umumnya AA. Untuk JagaKota, contoh cek konkret:
Teks normal → rasio kontras ≥ 4.5 : 1
Teks besar → rasio kontras ≥ 3 : 1
UI component → batas visual ≥ 3 : 1Warna tombol JagaKota: hijau #166534 di atas latar putih #FFFFFF — rasio kontras ~7.1:1, lolos AA. Warna teks abu-abu #9CA3AF di atas putih hanya ~2.4:1 — gagal. Audit kontras dengan Stark (plugin Figma) atau axe DevTools (browser).
JagaKota harus bisa digunakan tanpa mouse: semua elemen interaktif dapat dicapai dengan Tab, fokus terlihat jelas, dan konten dibaca dalam urutan yang logis. Setiap field form butuh label yang terhubung:
<label for="lokasi">Lokasi kejadian</label>
<input id="lokasi" type="text" autocomplete="street-address">Tanpa for dan id yang cocok, screen reader membacakan input tanpa nama — pengguna buta tidak tahu apa yang harus diisi.
Target sentuh minimal 44 × 44 px (pedoman platform; WCAG 2.2 menyarankan minimum 24 × 24 dengan jarak yang memadai). Tombol kecil rapat-rapat membuat pengguna tremor atau jari besar salah tekan.
Jangan andalkan warna saja untuk menyampaikan makna. Status laporan JagaKota sebaiknya disertai icon dan teks, bukan hanya hijau/merah — pengguna buta warna tidak melihat bedanya.
Inklusivitas juga bahasa. Prinsip: netral, hormat, dan menghindari asumsi. Contoh untuk JagaKota:
| Hindari | Ganti dengan |
|---|---|
| "warga yang malas melapor" | "warga yang belum tahu cara melapor" |
| "kategori laki-laki/perempuan" | izinkan "tidak ingin disebutkan" |
| "silakan hubungi petugas kami" | "silakan hubungi kami" |
Note
Accessibility adalah spectrum, bukan dikotomi. Mendesain untuk lansia membantu semua orang (font lebih besar membantu mata lelah), dan mendesain untuk pengguna screen reader menghasilkan HTML yang lebih rapi untuk semua orang. Inilah prinsip inclusive design: kebutuhan ekstrem menghasilkan solusi yang lebih baik bagi semua.
Lakukan audit cepat dengan checklist ini:
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 10 selanjutnya kita akan membahas psikologi dan cognitive load — mental models, beban kognitif, dan decision fatigue — untuk merancang JagaKota yang tidak menguras tenaga pengguna. Sampai jumpa di episode 10!