Belajar UX Researcher - Accessibility Research
Episode 15 of 28

Belajar UX Researcher - Accessibility Research

Menguasai riset aksesibilitas untuk WarungNaik: melibatkan pengguna disabilitas dalam riset, metode pengujian yang inklusif, memahami WCAG sebagai acuan, serta praktik rekrutmen dan moderasi yang menghormati partisipan

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 14 kita membangun operasional riset, pada episode ini kita membahas dimensi yang sering dilupakan padahal paling berdampak: accessibility research — riset dengan dan untuk pengguna disabilitas. Sebagian besar produk dirancang dengan asumsi pengguna "normal", padahal pengguna sesungguhnya sangat beragam: ada yang tuna netra, tuna rungu, gangguan motorik, atau kesulitan kognitif.

Mengapa accessibility research penting — selain karena kewajiban etis dan hukum (WCAG menjadi syarat di banyak pasar, misal EU Accessibility Act)? Karena keputusan desain yang diambil tanpa melibatkan pengguna disabilitas akan menghasilkan produk yang secara tak sengaja menutup pintu bagi sebagian orang. Untuk WarungNaik, pemilik warung bisa saja tuna netra atau berusia lanjut dengan gangguan penglihatan — dan mereka juga harus bisa memesan stok.

Prinsip Dasar: Nothing About Us Without Us

Prinsip paling penting dalam accessibility research: jangan meriset "tentang" pengguna disabilitas tanpa melibatkan mereka. Pengguna disabilitas adalah pakar pengalamannya sendiri. Riset aksesibilitas yang baik bukan sekadar "menguji dengan screen reader" — ia adalah riset kolaboratif yang menghormati kebutuhan dan pengalaman partisipan.

Implikasi praktisnya:

  • Rekrut pengguna dengan disabilitas yang relevan dengan segmen produk — bukan hanya relawan yang mudah ditemukan.
  • Rancang metode yang dapat diakses oleh partisipan (misal interview dengan juru bahasa isyarat untuk tuna rungu).
  • Bayar partisipan dengan adil — partisipasi mereka bernilai, dan sering kali mereka lebih sulit direkrut.

Berbagai Kebutuhan Aksesibilitas

KebutuhanContoh penggunaan produkMetode riset yang cocok
Tuna netraMemakai screen reader (TalkBack)Usability test + think-aloud
Low visionMemperbesar font, kontras tinggiObservasi pengaturan perangkat
Tuna runguButuh teks/caption, bukan audioInterview dengan juru bahasa
Gangguan motorikMemakai switch, dikte suaraUsability test jarak jauh
Kognitif / literasi rendahKesulitan teks panjang, butuh gambarObservasi + interview sederhana

Untuk WarungNaik, segmen penting: pemilik warung berusia lanjut (gangguan penglihatan, motorik lebih lambat) dan literasi digital rendah — keduanya punya kebutuhan aksesibilitas yang sering terabaikan.

Merancang Riset Inklusif

Rekrutmen

  • Bangun hubungan dengan komunitas disabilitas (organisasi tunanetra, komunitas tuli) sebagai sumber rekrutmen jangka panjang — bukan dicari saat riset mendadak.
  • Tanyakan kebutuhan akses partisipan sebelum sesi (transportasi, juru bahasa, materi dalam format tertentu).
  • Perjelas aksesibilitas lokasi & platform riset: ruangan ramah kursi roda, platform yang mendukung screen reader.

Moderasi

  • Tanya partisipan bagaimana cara terbaik berkomunikasi — jangan berasumsi.
  • Untuk tuna netra: deskripsikan layar dengan lantang; untuk tuna rungu: pastikan juru bahasa dan caption.
  • Beri waktu lebih — partisipan dengan motorik lambat butuh waktu lebih untuk menyelesaikan task; jangan terburu-buru.
  • Jangan ragu menyesuaikan task dengan kemampuan — tujuannya memahami pengalaman, bukan menyiksa.

Warning

Jangan sekali-kali menolak partisipan karena disabilitasnya "merepotkan". Menolak partisipan tuna netra karena "tool riset tidak mendukung" adalah kegagalan desain riset kalian, bukan kegagalan partisipan. Siapkan alternatif (misal interview telepon, atau screen reader di perangkat partisipan sendiri) sebelum sesi dimulai.

Melakukan A11y Study untuk WarungNaik

Contoh desain studi aksesibilitas WarungNaik:

A11y study — pesanan stok untuk pengguna low vision
Tujuan: memahami pengalaman memesan stok bagi pemilik warung
       dengan gangguan penglihatan ringan (low vision).
 
Partisipan: 5 pemilik warung low vision (rentang usia 45-70)
Metode: usability test moderated jarak jauh + think-aloud
Durasi: 60 menit/partisipan, 1 juru bahasa isyarat standby
 
Task:
1. Pesan 5 kg gula (ukuran font default aplikasi)
2. Ulangi dengan pengaturan ukuran font +100%
3. Cek harga dari 2 distributor
 
Observasi:
- Seberapa sulit menemukan tombol pesan?
- Kontras teks cukup atau tidak?
- Apakah flow berubah saat font diperbesar?

Hasil yang mungkin: ukuran font default terlalu kecil untuk 4/5 partisipan; tombol pesan sulit dibedakan karena kontras rendah; flow checkout pecah saat font diperbesar. Semua ini adalah temuan konkret yang bisa langsung diperbaiki desain.

Menghubungkan dengan WCAG

WCAG (Web Content Accessibility Guidelines) adalah acuan teknis aksesibilitas. Researcher tidak harus hafal seluruhnya, tapi wajib memahami tiga tingkatan dasarnya:

  • Perceivable — informasi bisa dilihat/didengar: kontras teks, alternatif teks untuk gambar.
  • Operable — bisa dioperasikan semua orang: navigasi keyboard, target cukup besar.
  • Understandable — mudah dipahami: bahasa sederhana, konsistensi, error yang jelas.

Saat temuan riset menyebut masalah (kontras rendah, target kecil), rujuk ke kriteria WCAG yang bersangkutan (misal WCAG 1.4.3 untuk kontras). Ini menghubungkan data riset dengan standar yang bisa diimplementasikan dan diaudit.

Tip

Kombinasikan riset dengan pengguna disabilitas dan audit aksesibilitas otomatis (misal axe DevTools, WAVE). Audit otomatis menemukan masalah teknis (missing alt text), riset menemukan masalah pengalaman (tombol "tidak terasa bisa ditekan"). Keduanya melengkapi — audit tanpa riset tidak tahu apa yang benar-benar menyulitkan, riset tanpa audit melewatkan detail teknis.

Menjaga Etika dan Kenyamanan

Accessibility research menuntut sensitivitas ekstra:

  • Jangan pernah merendahkan atau memuji berlebihan partisipan karena disabilitasnya.
  • Gunakan bahasa yang dihormati — "pengguna tuna netra", bukan "penyandang masalah penglihatan" yang menyiratkan keterbatasan.
  • Jangan tanyakan hal-hal personal yang tidak relevan dengan riset.
  • Pastikan partisipan paham haknya (informed consent, episode 18) dan bisa berhenti kapan saja.

Penutup

Pada episode 15 ini, kalian telah menguasai dasar accessibility research.

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Nothing about us without us — riset aksesibilitas melibatkan pengguna disabilitas sebagai pakar pengalamannya.
  • Rancang riset inklusif: rekrut dari komunitas, tanyakan kebutuhan akses, sesuaikan moderasi dan waktu.
  • Hubungkan temuan dengan WCAG (Perceivable, Operable, Understandable) agar bisa diimplementasikan.
  • Kombinasikan riset pengguna dengan audit otomatis untuk cakupan yang utuh.
  • Jaga etika: bahasa yang dihormati, keadilan insentif, dan kenyamanan partisipan.

Di episode 16 selanjutnya kita akan membahas evaluating AI products — bagaimana meriset produk AI seperti fitur rekomendasi stok WarungNaik: kepercayaan, transparansi, dan interaksi dengan AI agents. Sampai jumpa di episode 16!

Belajar UX Researcher - Accessibility Research | Belajar UX Researcher