Meriset produk AI seperti fitur rekomendasi stok WarungNaik: memahami tantangan trust dan transparency, mengevaluasi interaksi dengan AI agents, menguji kegagalan model, serta teknik riset khusus produk yang tidak bisa diprediksi perilakunya

Setelah di episode 15 kita meriset aksesibilitas, pada episode ini kita menghadapi tantangan riset paling baru: mengevaluasi produk AI. WarungNaik berencana meluncurkan fitur "rekomendasi stok otomatis" — aplikasi menyarankan kapan dan berapa banyak memesan berdasarkan riwayat penjualan. Fitur semacam ini bukan tombol biasa: ia memberi saran, bisa salah, dan perilakunya tidak selalu bisa diprediksi.
Inilah yang membedakan riset produk AI dari produk konvensional (episode 1): pengguna tidak berinteraksi dengan "sistem yang pasti", tapi dengan sesuatu yang terkadang salah secara misterius. Pertanyaan risetnya bergeser dari "apakah mudah dipakai?" menjadi "apakah pengguna percaya?", "apakah mereka paham kenapa begini?", dan "apa yang terjadi saat AI salah?"
| Aspek | Produk konvensional | Produk AI |
|---|---|---|
| Perilaku | Dapat diprediksi, deterministik | Bervariasi, bisa salah |
| Pertanyaan inti | Mudah dipakai? | Bisa dipercaya? Paham kenapa? |
| Umpan balik | Sistematis | Tidak selalu jelas kapan salah |
| Ekspektasi pengguna | Stabil | Naik-turun, sering terlalu tinggi |
| Tampilan error | Jarang, jelas | Sering, ambigu ("maaf, tidak bisa") |
Kesalahan umum: meriset produk AI dengan metodologi produk biasa. Misalnya usability test standar mengukur "berhasil selesai task" — tapi untuk fitur AI, task bisa "selesai" dengan jawaban yang salah tanpa pengguna sadar. Metrik standar tidak cukup.
Pertanyaan inti: apakah pengguna percaya saran AI — dan mengapa?
Faktor yang membangun trust:
Riset trust perlu mengamati perilaku, bukan sekadar menanyakan "percayakah kamu?". Orang bilang percaya tapi tetap mengecek manual — dan sebaliknya. Ukur lewat: berapa sering saran diterima apa adanya vs dikoreksi, dan apa yang terjadi setelah satu saran salah.
Pertanyaan inti: apakah pengguna paham mengapa AI melakukan ini?
Transparansi bukan berarti menjelaskan matematika model — itu membingungkan. Yang dibutuhkan pengguna adalah penjelasan yang masuk akal pada level perilaku:
Riset transparansi bisa memakai teach-back: setelah memakai fitur, minta pengguna menjelaskan "menurutmu, kenapa aplikasi menyarankan ini?" — jawaban mereka mengungkap model mental, dan model mental yang salah adalah temuan besar.
Pertanyaan inti: bagaimana pengguna berinteraksi dengan AI agent?
Produk AI sering berbentuk agent/asisten (chatbot, asisten suara) yang berbeda dari antarmuka tombol:
Warning
Jebakan paling umum dalam riset AI: menganggap "berhasil selesai task" berarti berhasil. Dalam usability test fitur AI, pengguna bisa menyelesaikan flow dengan menerima saran yang salah. Selalu sertakan metrik "kebenaran hasil" — dan periksa apakah pengguna menyadari kesalahannya. Task AI yang baik meminta pengguna menilai saran, bukan sekadar menerimanya.
Produk AI pasti gagal — pertanyaannya bagaimana kegagalan itu dikelola. Riset harus menguji skenario gagal secara sengaja:
1. Saran jumlah yang salah besar (rekomendasi 200 kg padahal
warung kecil) — apa yang dilakukan pengguna?
2. Data tidak cukup ("belum bisa memprediksi, data masih
sedikit") — apakah pengguna paham maksudnya?
3. Saran yang kedaluwarsa (harga tidak update) — apakah
pengguna menyadari, dan bagaimana reaksinya?
4. Kegagalan total (fitur error) — bagaimana pengguna
dipandu kembali ke cara manual?Temuan dari pengujian kegagalan: pengguna yang tidak diberi tahu "kenapa salah" kehilangan kepercayaan lebih cepat; pengguna yang diberi jalur manual yang jelas (telepon distributor) jauh lebih tahan terhadap kegagalan AI.
Untuk fitur AI yang belum siap dikembangkan, gunakan Wizard of Oz: seorang "manusia di belakang layar" berpura-pura menjadi AI. Kalian menguji reaksi pengguna terhadap perilaku AI tanpa harus membangun AI dulu.
Partisipan chat dengan "asisten" di aplikasi prototype.
Di balik layar, moderator membalas pesan mengikuti skenario
yang sudah disiapkan (saran stok, jawaban harga, error).
Tujuan: menguji bahasa, alur, dan reaksi — bukan model.Ini sangat efektif untuk mengeksplorasi trust dan gaya interaksi sebelum membangun model mahal.
Task untuk produk AI harus dibangun di atas skenario yang realistis:
Perilaku AI bervariasi antar pengguna — jadi riset perlu keduanya: interview/observasi untuk memahami mengapa, dan analisis log untuk melihat pola (berapa persen saran diterima, berapa sering dikoreksi). Metode kombinasi ini dikembangkan di episode 23.
Tip
Catat momen "aha" dan "anxiety" selama riset AI: momen pengguna tiba-tiba paham cara kerja fitur (aha) dan momen mereka ragu/khawatir (anxiety). Dua momen ini adalah bahan emas untuk desain transparansi — optimalkan yang pertama, hilangkan yang kedua.
Pada episode 16 ini, kalian telah menguasai dasar riset produk AI.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 17 selanjutnya kita akan membahas statistical thinking untuk riset — ukuran sampel, signifikansi, dan tingkat kepercayaan, agar klaim kuantitatif kalian tidak runtuh di depan stakeholder. Sampai jumpa di episode 17!