Memahami peta jenis riset UX: kualitatif vs kuantitatif, formative vs summative, generative vs evaluative, serta kerangka memilih metode yang tepat berdasarkan pertanyaan riset, tahap produk, dan sumber daya yang tersedia

Setelah di episode 1 kita memahami peran UX researcher sebagai jembatan data ↔ keputusan, pada episode ini kita membangun peta riset — kerangka untuk memilih metode yang tepat. Ini penting karena kesalahan paling umum researcher pemula bukan pada teknik, melainkan pada memilih metode yang salah untuk pertanyaan yang salah.
Analoginya: kalian tidak akan memakai timbangan untuk mengukur tinggi badan. Tapi dalam riset, banyak orang memakai survey untuk menjawab pertanyaan "mengapa?" dan memakai interview untuk menjawab "berapa banyak?" — keduanya salah. Episode ini memberi kalian peta untuk tidak melakukan kesalahan itu.
Ada tiga sumbu yang menjadi dasar memilih metode riset:
| Aspek | Kualitatif | Kuantitatif |
|---|---|---|
| Pertanyaan | "Mengapa dan bagaimana?" | "Berapa banyak dan seberapa sering?" |
| Data | Kata-kata, perilaku, emosi | Angka, skala, statistik |
| Contoh | Interview, observasi, diary | Survey, analytics, A/B test |
| Kekuatan | Mendalam, menjelaskan alasan | Bisa digeneralisasi, terukur |
| Kelemahan | Sampel kecil, tidak generalisabel | Tidak menjelaskan alasan di balik angka |
Aturan praktis: gunakan kualitatif untuk menemukan masalah, kuantitatif untuk mengukur dan memvalidasi. Keduanya bukan lawan — di episode 23 mereka dipadukan secara sistematis (mixed-methods).
Perhatikan tumpang tindihnya: formative cenderung generative/evaluative, summative hampir selalu evaluative. Yang penting bukan menghafal label, tapi memahami kapan tiap riset dilakukan.
Sebelum memilih metode, jawab empat pertanyaan ini:
Hasilnya adalah pilihan metode. Contoh untuk WarungNaik:
| Skenario | Pertanyaan | Metode terbaik |
|---|---|---|
| Fitur baru "reorder otomatis" | Fitur apa yang paling dibutuhkan? | Generative interview (ep 4) |
| Prototype alur checkout | Bisakah pengguna menyelesaikan pesanan? | Usability test (ep 7) |
| Setelah rilis v2 | Apakah konversi naik? | Analytics + A/B (ep 9, 24) |
Sumber data
Perilaku Kata-kata
┌──────────────┬──────────────┐
Formatif │ Usability │ Interview │
│ test │ contextual │
├──────────────┼──────────────┤
Summatif │ Analytics │ Survey │
│ A/B test │ diary study │
└──────────────┴──────────────┘Matriks di atas adalah versi sederhana dari 3×3 framework (behavioral vs attitudinal, qualitative vs quantitative, context of use) yang dipopulerkan NN/g. Kalian tidak perlu menghafalnya — cukup ingat bahwa riset yang baik memetakan pertanyaan → metode → sumber data dengan sadar.
Semua jenis riset di atas mengalir dalam satu proses umum. Inilah proses yang akan kita dalami episode demi episode:
Note
Researcher senior tidak mulai dari metode — mereka mulai dari keputusan. Tanyakan dulu "keputusan apa yang akan diambil dari hasil riset ini?" lalu mundur ke pertanyaan riset, dan baru pilih metode. Metode tanpa arah keputusan adalah buang waktu; ini menjadi tema berulang sepanjang series.
Warning
Waspadai bias "shiny object method" — memilih metode karena terlihat keren (misal eye tracking) padahal pertanyaannya sederhana. Metode mahal tidak otomatis lebih baik; yang menentukan kualitas adalah kesesuaian metode dengan pertanyaan dan eksekusinya.
Pada episode 2 ini, kalian telah membangun peta riset yang akan menuntun semua episode berikutnya.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 3 selanjutnya kita akan membahas planning research & research questions — menyusun research questions yang tajam, hipotesis yang teruji, sampling yang tepat, dan research plan yang siap dieksekusi untuk WarungNaik. Sampai jumpa di episode 3!