Belajar UX Researcher - Planning Research & Research Questions
Episode 3 of 28

Belajar UX Researcher - Planning Research & Research Questions

Menyusun research plan yang solid untuk WarungNaik: merumuskan research questions yang tajam dan dapat dijawab, membangun hipotesis yang bisa diuji, menentukan strategi sampling yang tepat, serta menyusun timeline, anggaran, dan stakeholder alignment sebelum riset berjalan

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 2 kita memahami peta jenis riset, pada episode ini kita masuk ke tahap paling menentukan: merencanakan riset. Banyak riset gagal bukan karena eksekusi, melainkan karena dimulai dengan pertanyaan yang salah, sampel yang salah, atau tanpa kesepakatan dengan stakeholder.

Analogi: interview yang baik seperti perjalanan dengan peta. Kalian bisa saja berangkat tanpa peta dan menemukan hal menarik, tapi kemungkinan besar tersesat dan membuang waktu. Research plan adalah peta itu — ia memastikan semua orang sepakat tujuan, rute, dan definisi selesainya sebelum perjalanan dimulai.

Research Questions yang Tajam

Karakteristik Research Question yang Baik

Research question (RQ) yang baik harus dapat dijawab oleh riset, bukan oleh opini. Uji kualitas RQ dengan tiga kriteria:

  1. Spesifik — "Apakah pemilik warung terbantu oleh WarungNaik?" terlalu luas. "Fitur mana yang paling dipakai pemilik warung kios kecil saat memesan stok dalam dua minggu pertama?" jauh lebih tajam.
  2. Dapat dijawab dengan metode yang realistis — jika RQ menuntut ribuan responden padahal budget hanya cukup untuk 8 interview, RQ-nya harus disesuaikan.
  3. Mengarahkan keputusan — RQ yang tidak mengarah ke keputusan apa pun adalah riset untuk hiburan.

Contoh RQ buruk vs baik untuk WarungNaik:

BurukBaik
"Apakah pengguna menyukai aplikasi ini?""Bagaimana pengalaman pemilik warung saat menyelesaikan pesanan pertama?"
"Kapan pengguna pakai aplikasi?""Pada titik mana pengguna berhenti di alur checkout, dan mengapa?"
"Apakah reorder otomatis dibutuhkan?""Bagaimana pemilik warung kini memutuskan kapan dan berapa banyak memesan stok?"

Funnel Pertanyaan: Menyempit dari Masalah ke RQ

Dari masalah bisnis ke research questions
Masalah bisnis: "Banyak pengguna baru tidak pernah selesai
                memesan di minggu pertama."

Pertanyaan bisnis: "Mengapa pengguna baru berhenti sebelum
                   pesanan pertama selesai?"

RQ 1: Bagaimana pengalaman pemilik warung melakukan pesanan
      pertama di WarungNaik?
RQ 2: Hambatan apa yang muncul saat membandingkan harga dari
      beberapa distributor?
RQ 3: Fitur apa yang membuat pengguna kembali memesan?

Perhatikan: masalah bisnis diubah menjadi pertanyaan yang bisa dijawab dengan bukti — bukan pernyataan yang harus dibenarkan.

Hipotesis

Hipotesis adalah dugaan terbaik yang bisa diuji. Ia berbeda dari asumsi: asumsi tidak diuji, hipotesis dirancang untuk diuji. Format hipotesis yang praktis:

Template hipotesis
Karena [insight yang kita yakini],
maka [perubahan/arah solusi]
akan menghasilkan [dampak yang diukur],
jika [kondisi yang harus benar].

Contoh untuk WarungNaik:

Hipotesis riset WarungNaik
Karena pemilik warung kios kecil lebih mengandalkan telepon ke
distributor yang sudah dikenal saat memesan,
maka fitur "pesanan ulang cepat ke distributor favorit"
akan mengurangi waktu pesan rata-rata,
jika prosesnya tidak memerlukan membandingkan harga ulang
secara manual.

Riset kemudian menguji bagian-bagian hipotesis ini — mana yang terbukti, mana yang tidak. Ini membuat riset terasa seperti eksperimen ilmiah, bukan sekadar "ngobrol dengan pengguna".

Sampling: Memilih Responden

Siapa yang Harus Direkrut?

Sample yang salah membuat riset menyesatkan. Dua pertanyaan kunci:

  • Segmen mana yang relevan? Untuk WarungNaik: pemilik warung kios kecil, toko sembako, atau keduanya? Menentukan segmen harus berdasarkan pengguna aktual atau target, bukan kemudahan rekrutmen.
  • Berapa banyak? Pedoman praktis: interview kualitatif butuh 5-8 responden per segmen untuk mencapai saturasi (tidak ada lagi temuan baru). Usability test menemukan mayoritas masalah dengan 5 pengguna per skenario. Survey kuantitatif perlu lebih besar (episode 17).

Strategi Sampling

StrategiKapan dipakaiContoh
PurposiveRiset kualitatif: rekrut yang relevan secara sengajaPemilik warung yang aktif berbelanja grosir
ConvenienceCepat & murah, tapi rawan biasMahasiswa yang memakai aplikasi belanja
SnowballSulit menjangkau segmen spesifikDistributor diperkenalkan oleh pemilik warung
RandomSurvey kuantitatif: tiap anggota populasi berkesempatan samaSurvey kepuasan ke semua pengguna aktif

Warning

Hati-hati dengan sampling bias — merekrut hanya pengguna yang mudah diakses. Jika WarungNaik dipakai pemilik warung dari kota kecil, tapi kalian hanya mewawancarai pemilik di Jakarta, insight kalian tidak mewakili pengguna sesungguhnya. Dokumentasikan kriteria rekrutmen dan laporkan keterbatasannya.

Menyusun Research Plan

Research plan adalah dokumen satu halaman yang mengunci kesepakatan. Struktur minimalnya:

Research Plan — WarungNaik
1. Tujuan & keputusan yang akan didukung
   - Keputusan: lanjut/tunda/pivot fitur reorder otomatis
2. Research questions (RQ1-RQ3)
3. Metode & alasan pemilihan
   - 6 interview semi-structured + 2 observasi lapangan
4. Sampling & rekrutmen
   - Kriteria, jumlah, sumber rekrutmen, insentif
5. Timeline & milestone
6. Deliverable & format komunikasi
7. Risiko & mitigasi

Timeline yang realistis untuk riset kecil (1-2 minggu):

Contoh timeline riset
Hari 1-2   Finalisasi RQ, kriteria rekrutmen, screening survey
Hari 3-6   Rekrutmen (target 6-8 responden), jadwal interview
Hari 7-10  Eksekusi interview + observasi
Hari 11-12 Transkrip, tagging, sintesis
Hari 13-14 Draft report, presentasi ke stakeholder

Stakeholder Alignment

Research plan yang tidak disepakati stakeholder adalah bom waktu. Sebelum eksekusi, pastikan:

  • Semua orang tahu keputusannya — "apa yang akan kita lakukan dengan hasil riset ini?" jangan menunggu riset selesai untuk menanyakannya.
  • Stakeholder hadir saat observasi — mengundang stakeholder menonton 1-2 interview mengubah persepsi mereka lebih kuat daripada membaca report (episode 12).
  • Ruang lingkup jelas — apa yang tidak akan dijawab riset ini sama pentingnya dengan apa yang dijawab.

Tip

Simpan research plan sebagai dokumen hidup di Dovetail (episode 13). Setelah riset selesai, tempel hasilnya di samping RQ masing-masing — ini membuat repository kalian terdokumentasi rapi dan mudah di-review stakeholder. Plan yang baik adalah 50% dari hasil riset yang baik.

Penutup

Pada episode 3 ini, kalian telah belajar merencanakan riset secara profesional.

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Research question harus spesifik, dapat dijawab, dan mengarahkan keputusan.
  • Hipotesis adalah dugaan yang dirancang untuk diuji, bukan asumsi yang dibenarkan.
  • Sampling menentukan kredibilitas: pilih segmen yang relevan, jaga jumlah minimal, dan dokumentasikan keterbatasan.
  • Research plan satu halaman + stakeholder alignment mencegah riset berjalan tanpa tujuan.

Di episode 4 selanjutnya kita akan masuk ke metode kualitatif pertama: user interview — semi-structured interview, teknik probing, menghindari bias, dan cara menyusun transkrip yang siap dianalisis. Sampai jumpa di episode 4!

Belajar UX Researcher - Planning Research & Research Questions | Belajar UX Researcher