Sebelum masuk ke Void Linux, kalian perlu menguasai dasar administrasi Linux, konsep init system, dan networking. Di episode ini kalian juga mengunduh ISO resmi Void, membuat VM lab, dan memverifikasi keaslian berkas ISO sebelum instalasi dimulai.

Selamat datang di series Belajar Void Linux! Series ini akan membawa kalian menguasai Void Linux — distro rolling release independen dengan package manager XBPS, init system runit, dan pilihan libc glibc atau musl — dari fondasi konsep sampai deployment production-grade. Total ada 23 episode yang tersusun dalam enam fase.
Tapi sebelum menyentuh konfigurasi, ada beberapa skill dasar dan perangkat lunak yang wajib kalian miliki. Mengapa prasyarat ini penting? Karena Void Linux tidak menggunakan systemd seperti mayoritas distro modern. Kalian akan menghadapi runit sebagai PID 1, service yang dikelola lewat symlink, dan package manager XBPS yang mungkin terasa asing. Kalau fondasi CLI dan konsep init belum kuat, troubleshooting nanti akan terasa berat.
Episode 0 ini adalah peta jalan kalian: kita akan memastikan skill dasar, menyiapkan ISO resmi Void Linux, membuat VM sebagai lab, dan melakukan verifikasi keaslian berkas. Setelah episode ini selesai, seluruh series bisa diikuti dengan nyaman.
Kalian wajib nyaman dengan terminal: navigasi direktori, manajemen berkas, manajemen user dan grup, serta melihat log. Void tidak menyediakan GUI tool untuk administrasi, sehingga hampir semua pekerjaan dilakukan lewat perintah. Kuasai ls, cp, mv, rm, chown, chmod, dan tar sebelum lanjut.
Periksa kemampuan ini dengan menjalankan:
uname -a
id
cat /etc/os-releasePerintah cat /etc/os-release akan menampilkan ID=void setelah kalian berhasil menginstall Void. Ini adalah tanda pertama bahwa sistem sudah benar-benar Void.
Void menggunakan runit sebagai init system. Konsep dasarnya berbeda dari systemd: service didefinisikan oleh direktori berisi skrip run, dan diaktifkan lewat symlink. Mulai sekarang biasakan istilah service directory dan symlink, karena itulah dua pilar utama manajemen service di Void.
Sebagai gambaran awal, periksa service yang sedang berjalan:
sv status /var/service/*
ls /var/service/Jangan khawatir jika outputnya belum bermakna — episode 5 akan membedah runit secara menyeluruh.
Kalian perlu memahami konsep partisi, filesystem, dan bootloader karena void-installer menanyakan semua ini saat instalasi. Pahami perbedaan UEFI dan BIOS/MBR, serta cara memilih mount point seperti / dan /home. Untuk networking, Void mengandalkan dhcpcd sebagai default dan NetworkManager sebagai opsi — kedua perintah jaringan dasar seperti ip addr dan ping wajib kalian kuasai.
Unduh ISO resmi dari situs resmi Void Linux di voidlinux.org/download. Tersedia dua flavor utama:
flavor glibc : paket prebuilt dengan glibc, kompatibilitas luas
flavor musl : footprint kecil, cocok untuk server dan containerArsitektur yang didukung adalah x86_64, i686, aarch64, dan armv7l. Untuk series ini, pilih glibc x86_64 karena paling banyak dipakai dan contoh-contohnya paling mudah diikuti.
Rekomendasi terbaik untuk belajar adalah VM, bukan instalasi di mesin fisik. Siapkan QEMU/KVM, VirtualBox, atau Proxmox dengan alokasi minimal 2 CPU dan 2 GB RAM untuk percobaan. Lab VM memungkinkan kalian memecah instalasi tanpa takut merusak sistem utama, dan mudah di-revert ketika eksperimen gagal.
Jika kalian memang ingin install ke mesin fisik, siapkan USB flash drive minimal 2 GB. Gunakan dd untuk menuliskan ISO ke USB:
sudo dd if=void-live-x86_64-20250216.iso of=/dev/sdX bs=4M status=progress
sudo syncGanti void-live-x86_64-20250216.iso dengan nama berkas ISO yang kalian unduh, dan sdX dengan device USB kalian. Berhati-hatilah, karena perintah ini akan menghapus seluruh isi device yang dituju.
Buat VM baru dengan ISO Void sebagai sumber boot. Pastikan firmware sesuai kebutuhan — pilih UEFI jika mesin virtual kalian mendukungnya, atau BIOS/MBR jika tidak. Alokasikan disk 20 GB atau lebih agar cukup untuk instalasi dan eksperimen di episode-episode berikutnya.
Sebelum mem-boot, verifikasi keaslian ISO yang sudah diunduh menggunakan checksum yang tersedia di situs resmi:
sha256sum void-live-x86_64-20250216.isoBandingkan outputnya dengan nilai yang tertera di halaman unduhan. Jika cocok, berarti ISO tidak korup dan aman untuk dipakai.
Siapkan dokumen catatan kecil berisi tiga hal berikut, karena akan terus dipakai sepanjang series:
Dengan catatan ini, kalian bisa kembali ke episode mana pun tanpa harus menebak konfigurasi lab.
Di episode 0 ini kalian sudah menyiapkan pijakan untuk seluruh series: memahami skill Linux, init system, partisi, dan networking yang dibutuhkan, mengunduh ISO Void Linux flavor glibc, membuat VM lab, serta memverifikasi keaslian berkas ISO.
Inti yang harus dibawa pulang:
sha256sum sebelum instalasi.Di episode 1 selanjutnya kita akan membahas sejarah, latar belakang, dan mengapa Void — dari lahirnya Void Linux pada 2008 oleh Juan Romero Pardines, filosofi stability dan simplicity, hingga alasan memilih Void dibanding distro rolling lainnya. Pastikan VM dan ISO kalian sudah siap, karena perjalanan Belajar Void Linux baru saja dimulai!