Episode ini menelusuri asal-usul Void Linux yang didirikan pada 2008, filosofi stability, simplicity, dan rolling release, serta alasan mengapa Void memilih runit, XBPS, dan dukungan ganda glibc-musl. Kalian akan memahami posisi unik Void di ekosistem distro Linux.

Sebelum membangun sesuatu, penting untuk tahu dari mana ia berasal. Episode 1 mengajak kalian menyelami sejarah dan filosofi Void Linux: mengapa ia dibuat, siapa pendirinya, dan keputusan desain apa yang membuatnya berbeda dari distro lain. Pemahaman ini bukan sekadar trivia — ia menjelaskan hampir semua keputusan teknis yang akan kita praktikkan di episode-episode berikutnya.
Void bukan distro turunan dari Arch, Debian, atau keluarga Red Hat. Ia adalah distro independen yang mengembangkan tooling-nya sendiri. Perpaduan antara rolling release, init runit, dan package manager XBPS inilah yang menjadi identitas Void.
Mari kita mulai dari awal mula Void Linux berdiri.
Void Linux didirikan pada tahun 2008 oleh Juan Romero Pardines, yang dikenal dengan handle xtraeme. Awalnya Void tumbuh dari keinginan pribadinya untuk memiliki distro dengan kontrol penuh atas sistem — terutama di area package management. Pardines adalah kontributor berpengalaman di ekosistem NetBSD, dan pengalaman inilah yang membentuk gaya teknis Void: sederhana, transparan, dan menghindari kompleksitas yang tidak perlu.
Setelah Pardines mundur dari pengembangan pada 2019, Void dikelola oleh komunitas yang masih aktif merawat distro ini hingga hari ini. Rolling release membuat Void tidak memiliki versi rilis, sehingga komunitas selalu bekerja pada satu pohon paket yang terus bergerak maju.
Ciri khas lain dari model pengembangan Void adalah keseimbangan antara kelincahan rolling release dan kehati-hatian pengujian. Paket baru tidak langsung tersedia di repositori current; mereka melewati tahap review oleh maintainer, termasuk pengujian dependensi dan kompatibilitas antar paket. Inilah alasan mengapa upgrade Void terasa lebih tenang dibanding rolling release kebanyakan.
Yang membedakan Void dari kebanyakan distro adalah kemandiriannya. Void tidak berbasis pada Arch maupun Debian. Semua tooling inti dikembangkan sendiri di dalam ekosistemnya:
XBPS : package manager asli (X Binary Package System)
runit : init system dan service supervision
xbps-src : build system untuk menyusun paket dari source
void-packages : repositori template paketKemandirian ini berarti setiap keputusan desain diambil berdasarkan kebutuhan Void, bukan mengikuti jejak distro lain.
Filosofi Void dapat diringkas dalam tiga kata: stability, simplicity, dan user control. Rolling release biasanya identik dengan ketidakstabilan, tapi Void menanganinya dengan kebijakan hati-hati — paket di repositori current tidak langsung didorong begitu saja, melainkan diuji oleh maintainer dan komunitas.
Simplisitas tercermin pada desain runit: service hanya berupa direktori dengan skrip run, bukan file unit dengan belasan opsi. Kontrol pengguna berarti tidak ada lapisan tersembunyi — kalian tahu persis service apa yang berjalan, bagaimana ia dijalankan, dan mengapa.
Void adalah salah satu distro besar yang secara konsisten menolak systemd. Keputusan ini bukan sekadar perang opini, melainkan pilihan desain: runit lebih kecil, lebih sederhana, dan menawarkan process supervision yang selalu aktif. Bagi kalian yang ingin memahami sistem Linux dari lapisan paling dasar, ketiadaan systemd justru menjadi keuntungan belajar.
Void mengadopsi model rolling release: kalian selalu berada di versi terbaru paket tanpa perlu upgrade besar antar rilis. Tidak ada lagi ritual upgrade dari versi 1 ke versi 2. Yang perlu dilakukan hanyalah upgrade rutin:
sudo xbps-install -SuPerintah xbps-install -Su menyinkronkan repositori lalu meng-upgrade seluruh paket. Karena paket diuji sebelum masuk repositori, upgrade rutin jarang sekali memecahkan sistem.
Void adalah satu-satunya distro mainstream yang menyediakan glibc dan musl dalam satu ekosistem repositori. Saat instalasi, kalian memilih flavor mana yang dipakai:
ldd --version | head -n 1Untuk sistem dengan glibc, perintah ldd --version menampilkan versi glibc. Fleksibilitas ini jarang ditemukan di distro lain dan akan kita bedah penuh di episode 6.
XBPS didesain khusus untuk Void, sehingga integrasinya dengan repositori dan key signing sangat rapi. Komunitasnya memang lebih kecil dibanding Arch atau Debian, tetapi aktif di forum, IRC, dan Matrix. Dokumentasi resmi di docs.voidlinux.org juga ringkas dan padat — sangat cocok untuk kalian yang suka membaca sumber langsung.
Agar jujur, Void bukan untuk semua orang. Jika kalian butuh dukungan enterprise dari vendor, repository aplikasi komersial yang lengkap, atau tim support besar di kantor, distro berbasis Debian, RHEL, atau SUSE mungkin lebih masuk akal. Basis pengguna Void yang kecil juga berarti beberapa aplikasi niche harus dibangun sendiri lewat xbps-src.
Namun justru di sinilah nilai belajar Void: kekurangan tersebut memaksa kalian memahami sistem, bukan sekadar mengeksekusi perintah. Skill tersebut portabel dan akan tetap berguna walau suatu saat kalian kembali ke distro lain.
Setelah berhasil boot ke sistem Void yang sudah terinstall, kalian bisa memverifikasi identitas distribusinya langsung dari shell:
cat /etc/os-release
head -n 1 /etc/issueOutput /etc/os-release menampilkan ID=void dan ID_LIKE= yang kosong — tanda bahwa Void tidak mengklaim kemiripan dengan distro mana pun. Ini bukti konkret status independen Void yang sudah kita bahas.
Salah satu cara menikmati rampingnya Void adalah menghitung jumlah paket yang terpasang pada instalasi default:
xbps-query -l | wc -lPada instalasi server minimal, jumlahnya biasanya jauh lebih sedikit dibanding distro mainstream dengan fitur setara. Perintah xbps-query -l menjadi bahan perbandingan yang menarik saat kalian membandingkan Void dengan distro lain di episode 22.
Episode 1 membawa kalian memahami asal-usul Void Linux: didirikan pada 2008 oleh Juan Romero Pardines sebagai distro independen, dibangun di atas XBPS, runit, dan xbps-src, dengan filosofi stability, simplicity, dan kontrol pengguna. Kalian juga tahu mengapa Void layak dipelajari — rolling namun stabil, tanpa systemd, dan dukungan ganda glibc-musl.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 2 selanjutnya kita akan membahas konsep dasar dan arsitektur utama — bagaimana kernel, libc, runit sebagai PID 1, dan XBPS bekerja sama, plus peran tiap komponen XBPS seperti xbps-install, xbps-query, xbps-remove, dan xbps-reconfigure. Ini adalah fondasi arsitektur yang akan menjadi bahasa utama seluruh series.