Series/OSI Model/Episode 9
Episode 9 of 19

BELAJAR OSI MODEL - [EPISODE 9 - DNS]

Mempelajari apa itu DNS, taksonomi domain, serta memahami secara detail bagaimana proses DNS Query bekerja di balik layar.

Architek ID
Architek IDMarch 9, 2026
0 views
2 min read

Melanjutkan perjalanan kita dalam seri Belajar OSI Model, di episode kesembilan ini kita akan membahas tentang DNS (Domain Name System). Walaupun DNS sejatinya beroperasi pada Layer 7 (Application Layer), keberadaannya sangat krusial dan memiliki keterkaitan yang erat dengan proses yang terjadi pada Layer 3 (Network Layer) dalam menerjemahkan alamat.

Apa itu DNS?

DNS (Domain Name System) adalah sebuah sistem yang berfungsi untuk melakukan translate atau pemetaan (mapping) dari nama domain yang mudah diingat oleh manusia (seperti google.com) menjadi format IP Address yang dapat dipahami oleh komputer (seperti 142.251.150.119).

Taksonomi Domain (Hierarki)

Sebuah nama domain, contohnya www.google.com., sebenarnya memiliki hierarki atau taksonomi pembacaan dari kanan ke kiri:

  1. RLD (Root Level Domain): Titik (.) tak kasat mata di bagian paling akhir.
  2. TLD (Top Level Domain): Bagian ekstensi domain, seperti .com, .id, .org, .gov, dll.
  3. SLD (Second Level Domain): Nama utama dari domain tersebut, contohnya google.
  4. Subdomain: Bagian paling depan sebelum SLD, contohnya www, mail, api, dll.

Cara Kerja DNS Query

Saat Anda mengetikkan sebuah nama domain di browser komputer, ada proses panjang yang terjadi di balik layar hanya dalam sepersekian detik. Berikut adalah tahapan DNS Query tersebut:

  1. Host File & DNS Cache (Lokal): Komputer akan terlebih dahulu mengecek file lokal (Host File) dan DNS Cache yang ada di sistem operasi. Jika IP Address ditemukan, pencarian berhenti di sini.
  2. DNS Resolver: Jika tidak ditemukan di lokal, komputer akan mengirimkan request ke DNS Resolver (biasanya disediakan oleh ISP atau DNS publik seperti Google/Cloudflare). Proses komunikasi antara komputer dan DNS Resolver ini disebut sebagai Recursive Query.
  3. Root DNS Server: Jika Resolver juga tidak memiliki data di cache-nya, Resolver akan bertanya ke Root DNS Server. Root Server tidak tahu IP spesifiknya, namun ia tahu siapa yang mengurus ekstensi TLD-nya (misalnya .com), dan mengembalikan informasi tersebut ke Resolver. Proses dari Resolver ke tahapan-tahapan selanjutnya ini disebut Iterative Query.
  4. TLD (Top Level Domain) Server: Resolver kemudian bertanya kepada TLD Server. TLD Server akan mengarahkan Resolver untuk bertanya kepada Name Server yang bertanggung jawab atas nama domain spesifik tersebut.
  5. Authoritative DNS Server: Di sinilah pencarian berakhir. Resolver bertanya kepada Authoritative DNS Server (Name Server dari domain yang dituju). Server inilah yang memegang record asli dan akan mengembalikan IP Address dari domain tersebut ke Resolver.
  6. Return ke Komputer: Resolver menerima IP Address, menyimpannya di cache untuk mempercepat permintaan berikutnya, lalu menyerahkannya ke browser komputer Anda agar bisa langsung terhubung ke server tujuan.

Untuk memahami proses ilustrasi dan praktiknya secara langsung menggunakan terminal (CLI), silakan gunakan panduan waktu berikut:

  • [00:00:00] Pengertian dasar DNS dan hubungannya dengan Layer 7 serta Layer 3.
  • [00:00:27] Penjelasan taksonomi atau hierarki domain (RLD, TLD, SLD, Subdomain).
  • [00:01:12] Contoh penggunaan tool dig di Linux untuk melakukan query DNS.
  • [00:02:37] Ilustrasi diagram visual tentang bagaimana DNS Query bekerja di balik layar.
  • [00:03:02] Proses pengecekan di level lokal (Host file dan DNS Cache).
  • [00:03:37] Peran DNS Resolver, Root DNS Server, TLD Server, dan Authoritative DNS Server.
  • [00:05:42] Perbedaan Recursive Query dan Iterative Query.
  • [00:06:29] Praktik melakukan trace DNS secara langsung melalui Terminal untuk melihat proses Iterative Query ke domain itb.ac.id.

Tonton videonya di atas untuk mendalami ilustrasi alur kerja DNS dan mencoba langsung perintahnya di terminal Anda!