Membedah arsitektur AlmaLinux dari dalam: bagaimana rebuild dibangun dari SRPM RHEL menjadi repositori AlmaLinux, kompatibilitas kernel dan ABI, serta komponen-komponen utama seperti kernel, GNU userland, dnf5, systemd, SELinux, firewalld, Cockpit, dan repositori BaseOS dengan AppStream.

Di episode 1 sebelumnya kita menelusuri sejarah dan latar belakang: mengapa AlmaLinux lahir dari penghentian CentOS, bagaimana ia menjadi rebuild RHEL yang dikelola komunitas, dan mengapa kompatibilitas 1:1 menjadi janji utamanya. Pada episode kali ini kita akan mengintip ke dalam mesin: bagaimana AlmaLinux dibangun dan apa saja komponen utamanya.
Pemahaman arsitektur ini penting karena menentukan cara kalian berpikir saat mengelola sistem. Ketika service tidak jalan, kalian perlu tahu mana dari komponen ini yang bermasalah. Ketika kalian menambah repositori, kalian perlu tahu bagaimana repository itu tersambung ke sistem. Mari kita bedah lapis demi lapis.
Istilah "rebuild" sudah kita kenal di episode 1, tetapi mari kita lihat prosesnya secara teknis. RHEL menerbitkan source code-nya sebagai SRPM (Source RPM) — package yang berisi source code dan file spec untuk membangun binary. Proyek AlmaLinux mengambil SRPM-SRPM ini, lalu:
Hasilnya adalah repositori yang isinya identik secara binary behavior dengan RHEL, tetapi dihosting dan dikelola sepenuhnya oleh AlmaLinux OS Foundation.
rpm -qa --qf '%{NAME} %{VERSION} %{RELEASE} %{SIGPGP:pgpsig}\n' kernel
dnf5 repolistOutput dnf5 repolist akan menampilkan repository yang aktif — inilah gerbang utama distribusi software di sistem kalian. Detail lengkapnya akan kita bahas di episode 4.
Dua istilah teknis yang wajib kalian pahami:
Inilah jaminan terpenting bagi pengguna enterprise: kalian bisa membangun aplikasi sekali, lalu menjalankannya di RHEL, AlmaLinux, dan Rocky tanpa perubahan. Dukungan hardware baru juga masuk mengikuti rilis 9.x dan 10.x, sehingga kernel AlmaLinux selalu mampu menangani perangkat modern.
AlmaLinux bukan satu program raksasa — ia adalah ekosistem yang tersusun dari banyak komponen yang saling bekerja sama. Berikut yang paling penting.
Inti sistem operasi: mengelola proses, memori, perangkat keras, dan jaringan. AlmaLinux memakai kernel dari cabang kernel RHEL yang sudah diuji ketat untuk kestabilan production. Kalian bisa melihat versi kernel yang berjalan dengan:
uname -rDi atas kernel ada GNU userland — kumpulan utilitas standar (ls, cp, grep, bash, dan ratusan lainnya) yang menjadi antarmuka sehari-hari kalian. Bersama kernel dan library glibc, inilah fondasi sistem Linux yang sudah kalian kenal sejak episode 0.
Package manager modern AlmaLinux yang menangani instalasi, update, dan manajemen repositori. Di AlmaLinux 9 ia hadir sebagai dnf (dengan dnf5 sebagai opsi), dan di AlmaLinux 10 ia menjadi default. Komponen ini akan kita dalami di episode 4 dan 5.
Init system dan service manager yang menjalankan semua proses sistem — dari mount filesystem saat boot hingga restart otomatis service yang mati. Hampir seluruh layanan di AlmaLinux dikelola oleh systemd, dan kita akan membedahnya di episode 7.
Lapisan Mandatory Access Control yang membatasi apa yang boleh dilakukan proses — bahkan root. SELinux aktif secara default di AlmaLinux dalam mode enforcing, dan menjadi salah satu alasan utama keamanan ekosistem RHEL. Kita akan membahasnya mulai episode 13.
Pengelola firewall dinamis berbasis zona yang menyaring lalu lintas masuk dan keluar. Default di AlmaLinux, dikonfigurasi dengan firewall-cmd. Networking dan firewalld akan kita bahas di episode 9.
Server web manajemen sistem yang memungkinkan kalian mengelola service, user, log, dan update melalui browser. Sangat berguna untuk admin yang suka antarmuka visual. Detailnya di episode 11.
Salah satu perubahan arsitektur paling penting di era RHEL 8+ adalah pembagian repository menjadi dua utama:
| Repositori | Isi | Karakteristik |
|---|---|---|
| BaseOS | Package inti sistem operasi | Dependensi dasar semua komponen sistem |
| AppStream | Aplikasi dan runtime | Bisa punya beberapa versi dalam satu repositori |
BaseOS berisi package yang menjadi fondasi: kernel, glibc, systemd, dan sejenisnya. AppStream berisi aplikasi dan runtime seperti Python, Node.js, PostgreSQL, dan Nginx — dan di sinilah konsep module hidup, yang memungkinkan satu aplikasi tersedia dalam beberapa versi sekaligus. Ini akan kita bedah di episode 5.
Selain keduanya, ada repository pelengkap:
dnf5 repolist --allOutput perintah ini menunjukkan semua repository yang dikenal sistem, termasuk yang aktif maupun yang dinonaktifkan.
Sebagai distribusi mandiri, AlmaLinux membawa beberapa tool khas yang tidak ada di RHEL:
dnf-almalinux — plugin dan tools resmi AlmaLinux untuk kebutuhan distro.almalinux-deploy — tool konversi CentOS menjadi AlmaLinux.dnf5 repolist --verbose | head
dnf5 config-manager setopt tsflags=testInfo
Tools khusus ini adalah bukti bahwa AlmaLinux bukan sekadar salinan pasif RHEL — ia aktif mengembangkan tooling untuk mempermudah adopsi dan migrasi, yang akan kita pelajari langsung di episode 20.
uname -r.Pada episode 2 ini kita telah membedah arsitektur AlmaLinux dari dalam: proses rebuild dari SRPM RHEL menjadi repositori AlmaLinux, jaminan kompatibilitas kernel dan ABI, komponen utama (kernel, GNU userland, dnf5, systemd, SELinux, firewalld, Cockpit), pembagian repositori BaseOS dan AppStream, hingga tools khusus AlmaLinux seperti dnf-almalinux dan ELevate.
Inti yang harus dibawa pulang:
dnf-almalinux, ELevate, dan almalinux-deploy.Pemahaman arsitektur ini menjadi lensa untuk semua episode berikutnya. Di episode 3 selanjutnya, kita akan masuk ke aksi nyata: instalasi & deployment — mulai dari installer Anaconda, pilihan software set, partisi LVM dan Btrfs, Secure Boot UEFI, hingga deployment otomatis dengan Kickstart dan cloud-init. Siapkan lab kalian, karena mulai sekarang kita akan banyak praktik!