Memandu instalasi AlmaLinux dari awal hingga siap pakai: menggunakan installer Anaconda dalam mode graphical, text, maupun Kickstart, memilih software set Server atau Minimal, menyiapkan partisi LVM, Btrfs, atau encrypted, mengaktifkan Secure Boot, lalu menutup dengan deployment otomatis lewat cloud-init dan image khusus.

Di episode 2 sebelumnya kita membedah arsitektur AlmaLinux: bagaimana rebuild dibangun dari SRPM RHEL, komponen-komponen utamanya, dan repositori yang menyusunnya. Sekarang saatnya masuk ke aksi nyata: menginstall AlmaLinux di mesin kalian. Episode ini memandu dari boot installer hingga sistem siap dipakai, lalu membuka pintu deployment otomatis yang menjadi standar di dunia modern.
Instalasi mungkin terlihat seperti tugas sekali jalan, tetapi keputusan yang kalian buat di sini — software set, partisi, dan opsi boot — menentukan karakter sistem untuk bertahun-tahun ke depan. Mari kita lakukan dengan benar sejak awal.
Anaconda adalah installer resmi keluarga Red Hat. Ia tersedia dalam tiga mode yang bisa kalian pilih sesuai kebutuhan:
| Mode | Kegunaan |
|---|---|
| Graphical | Mode default dengan antarmuka visual penuh; paling mudah untuk pemula |
| Text | Mode berbasis terminal; ringan dan cocok untuk instalasi jarak jauh |
| Kickstart | Mode otomatis penuh berbasis file konfigurasi; untuk provisioning massal |
1. Language & keyboard
2. Installation destination (partisi)
3. Software selection (software set)
4. Root password & user creation
5. Network & hostname
6. Begin installationSalah satu keputusan paling penting adalah software set — paket default yang ikut terinstall. Anaconda menyediakan beberapa pilihan:
| Software Set | Karakteristik |
|---|---|
| Server with GUI | Server lengkap plus desktop; boros untuk produksi |
| Server | Server tanpa desktop; pilihan utama production |
| Minimal | Hanya package paling dasar; paling ringan dan aman |
| Workstation | Desktop lengkap untuk pengguna akhir |
Tip
Untuk series ini, pilih Minimal atau Server. Sistem yang minim package lebih aman (permukaan serangan lebih kecil), dan kalian akan menginstall tool yang dibutuhkan per episode secara bertahap — persis seperti yang dilakukan sysadmin production.
Langkah partisi menentukan bagaimana storage kalian diatur. Anaconda menyediakan skema otomatis dan manual.
LVM adalah skema default dan paling populer. Ia memisahkan penyimpanan fisik (/dev/sda) dari penyimpanan logis (volume), sehingga partisi bisa diubah ukurannya dengan mudah tanpa mengganti hardware. Struktur dasarnya:
lsblkSistem modern boot melalui UEFI (pengganti BIOS lama), dan Secure Boot memverifikasi tanda tangan setiap komponen boot agar tidak ada malware yang membajak proses boot. AlmaLinux mendukung Secure Boot penuh: image installer dan kernelnya sudah ditandatangani sehingga bisa boot di mesin dengan Secure Boot aktif.
[ -d /sys/firmware/efi ] && echo "UEFI mode" || echo "Legacy BIOS mode"Warning
Jika mesin kalian memakai UEFI, pastikan mode boot di firmware sesuai (UEFI, bukan Legacy/CSM). Mencampur keduanya sering menyebabkan sistem tidak bisa boot atau partisi EFI System Partition tidak terbuat.
Setelah menguasai instalasi interaktif, waktunya otomasi. Kickstart adalah file konfigurasi yang menjawab semua pertanyaan installer secara otomatis — sehingga ribuan server bisa diinstall dengan hasil yang identik dan tanpa interaksi manusia.
# Kickstart file generated by Anaconda
lang=en_US.UTF-8
keyboard --vckeymap=us
network --bootproto=dhcp --device=ens192
rootpw --iscrypted <hash>
user --name=devops --groups=wheel
%packages
@server
openssh-server
%end%packages — daftar package dan group yang diinstall, diakhiri %end.%post — script yang dijalankan setelah instalasi selesai, cocok untuk konfigurasi tambahan seperti menginstall agent monitoring atau membuat user.Instalasi interaktif otomatis menghasilkan file Kickstart di /root/anaconda-ks.cfg — jadikan ini template awal untuk file Kickstart kalian. Untuk memvalidasi file yang kalian tulis, install pykickstart yang menyediakan validator:
sudo dnf install -y pykickstart
ksvalidator /root/anaconda-ks.cfgSetelah file valid, jalankan installer dengan menambahkan inst.ks=<lokasi-file> di parameter boot, misalnya inst.ks=http://192.168.1.10/ks.cfg untuk sumber dari server jaringan.
Untuk lingkungan cloud dan virtualisasi modern, menginstall lewat Anaconda biasanya bukan pilihan. Sebagai gantinya, gunakan cloud image yang sudah dikonfigurasi untuk provisioning otomatis.
cloud-init adalah standar industri untuk provisioning instance cloud. Setiap cloud image AlmaLinux sudah memuatnya. Saat instance pertama kali boot, cloud-init membaca konfigurasi dari dua sumber:
#cloud-config
users:
- name: devops
sudo: ALL=(ALL) NOPASSWD:ALL
ssh_authorized_keys:
- ssh-ed25519 AAAA... user@host
package_update: true
packages:
- git
- htopSelain cloud, AlmaLinux juga menyediakan image untuk lingkungan khusus:
Setelah sistem boot pertama kali, jalankan verifikasi berikut untuk memastikan instalasi bersih:
cat /etc/os-release
lsblk
free -h
dnf5 --versionWarning
Segera lakukan sudo dnf5 upgrade setelah instalasi selesai. Installer hanya memuat state saat ISO dirilis; setelah itu banyak update keamanan yang perlu ditarik dari repository.
Pada episode 3 ini kalian telah menguasai jalur instalasi AlmaLinux dari awal hingga siap pakai: memahami tiga mode installer Anaconda, memilih software set yang tepat, menyiapkan partisi LVM, Btrfs, atau encrypted, mengaktifkan Secure Boot UEFI, lalu menutup dengan deployment otomatis menggunakan Kickstart, cloud-init, dan image khusus WSL serta Raspberry Pi.
Inti yang harus dibawa pulang:
%packages, %post) mengotomatiskan instalasi massal.Instalasi yang baik adalah fondasi sistem yang sehat. Di episode 4 selanjutnya, kita akan membahas package management dengan DNF5 & repositori — jantung administrasi AlmaLinux sehari-hari: perintah dasar dnf5, konfigurasi dnf5.conf, riwayat dan rollback, serta pengelolaan repositori BaseOS, AppStream, CRB, EPEL, hingga plugin resmi dnf-almalinux. Sampai jumpa!