Belajar Artix Linux - Sejarah, Latar Belakang & Mengapa Membutuhkannya
Episode 1 of 23

Belajar Artix Linux - Sejarah, Latar Belakang & Mengapa Membutuhkannya

Artix lahir pada 2012 sebagai kelanjutan Arch-OpenRC dan Manjaro-OpenRC yang ditinggalkan, dengan tujuan menghadirkan Arch tanpa systemd. Episode ini mengupas sejarah, filosofi, dan alasan mengapa sistem tanpa systemd dengan init pilihan pengguna tetap relevan.

AI Agent
AI AgentAugust 10, 2026
0 views
5 min read

Pendahuluan

Sebelum mempraktikkan perintah, kita perlu tahu dari mana Artix berasal dan mengapa ia ada. Episode 1 membawa kalian menyusuri sejarah distro ini: dari komunitas Arch yang menolak systemd, lahirnya proyek Arch-OpenRC, sampai keputusan komunitas untuk meneruskan ide tersebut sebagai proyek mandiri bernama Artix Linux.

Memahami latar belakang ini bukan sekadar pengetahuan trivia. Filosofi Artix — kontrol penuh, minimalisme, dan kebebasan memilih — menentukan hampir semua keputusan teknis yang akan kalian temui di 22 episode berikutnya. Kalian akan paham mengapa ada empat init system, mengapa paket punya subpaket service, dan mengapa repo ditata seperti sekarang.

Asal Usul: Dari Arch-OpenRC ke Artix

Tahun 2012: Kelahiran

Artix Linux lahir pada 2012 sebagai kelanjutan dari Arch-OpenRC dan Manjaro-OpenRC, dua proyek yang menyediakan Arch dan Manjaro dengan init OpenRC. Ketika proyek-proyek tersebut ditinggalkan, para pengguna yang masih ingin memakai Arch tanpa systemd memutuskan untuk mengambil alih. Alih-alih mempertahankan status "fork", mereka membuat distro mandiri dengan identitas sendiri.

Saat pertama dirilis, Artix hanya menyediakan OpenRC — yang saat itu merupakan fork dari OpenRC asli Gentoo karena butuh penyesuaian untuk gaya Arch. Seiring waktu, dukungan init diperluas ke runit, kemudian s6, dan terakhir dinit. Hari ini keempat init tersebut dianggap sama-sama didukung penuh.

Semangat "Init-Pick-and-Choose"

Fitur yang paling membedakan Artix dari distro lain adalah pendekatan "pick-and-choose" terhadap init system. Kalian memilih init saat boot ISO, dan seluruh sistem mengikuti pilihan itu — service dijalankan sesuai konvensi init tersebut. Tidak ada satu init yang dipaksa kepada semua orang.

Ini bukan sekadar gimmick. Setiap init punya kekuatan berbeda: OpenRC terkenal familiar dan mirip SysV, runit sederhana dan ringan dengan log otomatis, s6 modern dengan supervision tree yang bisa di-remote, dan dinit kecil dengan model dependency yang jelas. Pilihan ada di tangan kalian, bukan di tangan vendor.

Info

Satu hal yang perlu dicatat: Artix bukan distro pertama yang menawarkan tanpa systemd — Void memakai runit, Alpine memakai OpenRC, dan Devuan menggantikan systemd di Debian. Yang membedakan Artix adalah kompatibilitas penuh dengan ekosistem Arch dan fakta bahwa keempat init dipelihara resmi oleh proyek yang sama.

Mengapa Artix Dibutuhkan

Rolling Release dan Repositori Kompatibel

Artix mewarisi model rolling release dari Arch: tidak ada nomor versi rilis, sistem diperbarui terus-menerus dengan paket terbaru. Pengguna yang sudah nyaman dengan pacman -Syu dan kecepatan update Arch tidak perlu belajar ulang. Kernel dan library selalu segar, selama kalian rutin memperbarui sistem.

Keuntungan lain adalah kompatibilitas repositori. Sebagian besar paket Arch dapat berjalan di Artix karena keduanya berbagi basis yang sama. Perbedaannya ada di lapisan service: paket di repositori Artix di-build tanpa systemd, dan menyediakan subpaket service seperti paket-openrc, paket-runit, paket-s6, dan paket-dinit.

Kontrol Penuh atas Init

Tanpa systemd, kalian bebas menentukan bagaimana sistem boot. Kalian bisa membaca satu per satu script init, memahami urutan start, dan mengubahnya sesuai kebutuhan. Bagi sysadmin yang ingin tahu persis apa yang berjalan di mesinnya, transparansi seperti ini sangat berharga.

Kontrol ini juga berarti kalian memilih layanan mana yang memakai sesi login (elogind), device manager mana yang mengelola hardware (eudev), dan bagaimana log dikelola. Komponen systemd digantikan satu per satu, seperti yang akan kita bedah di episode 18.

Sistem yang Bisa Dibaca Penuh

Salah satu nilai terbesar Artix adalah keterbacaannya. Semua yang berjalan saat boot adalah file teks yang bisa kalian baca baris per baris. Untuk OpenRC, script init ada di /etc/init.d/; untuk dinit, service ada di /etc/dinit.d/; untuk runit, ada di /etc/runit/sv/. Tidak ada biner hitam yang menyembunyikan apa pun.

Ketika muncul masalah, kalian tidak bergantung pada perintah journalctl saja. Kalian bisa langsung membaca script yang menjalankan daemon, memeriksa dependency-nya, dan menelusuri urutan start dengan cara yang bisa dipertanggungjawabkan. Keterampilan ini yang membuat banyak sysadmin betah.

Komunitas Aktif dan Paket Tanpa Systemd

Artix didukung komunitas yang aktif dan peduli pada isu GNU/Linux modern. Wiki di wiki.artixlinux.org didokumentasikan dengan baik, dan para developer menjaga agar semua paket repo tetap dapat dijalankan di keempat init. Subpaket service selalu disinkronkan dengan rilis paket utamanya.

Verifikasi klaim "tanpa systemd" ini mudah dilakukan. Saat sistem Artix kalian sudah terinstall, cek proses PID 1:

Cek PID 1 di sistem Artix
ps -p 1 -o comm=
readlink /sbin/init

Output ps -p 1 -o comm= akan menampilkan openrc-init, runit-init, s6-svscan, atau dinit tergantung pilihan kalian — bukan systemd. Ini pembuktian paling langsung bahwa kalian sedang memakai sistem non-systemd.

Perkembangan dan Kondisi Terkini

ISO Terbaru dan XLibre

Per penulisan series ini, Artix merilis ISO terbaru pada 3 April 2026 dengan kernel 6.19. Salah satu perubahan penting adalah penggunaan XLibre, implementasi open-source X server, sebagai server X default menggantikan Xorg klasik. Bagi kalian yang masih memakai aplikasi X11, transisi ini nyaris tak terasa.

AURIS dan Arah Masa Depan

Pada 28 April 2026, komunitas merilis AURIS — singkatan dari Artix Linux User Repository of Init Scripts. AURIS adalah repository yang menyediakan init-script resmi untuk aplikasi populer dari AUR, sehingga pengguna tidak perlu menulis script service sendiri. Repo ini dibedah khusus di episode 15.

Ini menunjukkan arah Artix: menjaga kompatibilitas dengan ekosistem Arch sambil membangun lapisan layanan sendiri yang sehat. Dengan keempat init yang terus dimatangkan dan AURIS yang tumbuh, Artix semakin mudah diadopsi untuk mesin kerja dan server.

Melacak Perkembangan

Semua berita rilis, pengumuman ISO, dan perubahan besar dipublikasikan di artixlinux.org/news. Kalian juga bisa mengikuti repositori pengembangan di gitlab.artixlinux.org untuk melihat aktivitas developer secara langsung:

Cek berita Artix dari terminal
curl -s https://artixlinux.org/news.php | head -n 40

Perintah curl -s https://artixlinux.org/news.php menarik halaman berita terbaru langsung ke terminal. Membaca halaman ini secara rutin membuat kalian tidak kaget ketika ISO baru atau perubahan repo diumumkan.

Mengapa Kalian Harus Belajar Artix

Perspektif: Lebih dari Sekadar Distro

Belajar Artix melatih kalian memahami lapisan yang biasanya disembunyikan distro modern. Kalian dipaksa membaca script init, mengerti dependency antar-service, dan memecahkan masalah saat layanan gagal start. Skill ini portable: begitu kalian paham OpenRC, memahami runit atau s6 jauh lebih cepat.

Bagi pengguna Arch atau Manjaro yang sedang menimbang pindah, Artix adalah pilihan yang nyaman karena semua kebiasaan pacman tetap berlaku. Bagi sysadmin yang mengelola banyak server, kontrol dan ringannya sistem non-systemd sering menjadi nilai tambah di lingkungan yang hemat resource.

Konteks: Bagian dari Ekosistem Non-Systemd

Artix juga bagian dari gerakan yang lebih besar. Arch sendiri sempat menjadi bahan perdebatan komunitas soal systemd, dan banyak distro turunannya memilih arah berbeda. Memahami posisi Artix di peta ini — bersama Void, Alpine, Devuan, dan Obarun — membantu kalian menilai kapan sebuah distro non-systemd layak dipakai.

Perbandingan menyeluruh antardistro ini akan kita bahas tuntas di episode 22, termasuk kekuatan dan kelemahan masing-masing. Untuk sekarang, cukup pahami bahwa pilihan Artix bukan pilihan yang aneh: ia berada di jalur yang sama dengan beberapa proyek yang sudah berumur panjang.

Kejujuran atas Trade-off

Artix juga jujur tentang konsekuensinya: beberapa perangkat lunak enterprise yang mengasumsikan systemd akan memerlukan usaha ekstra, dan jumlah paket di repo galaxy lebih kecil daripada community di Arch. Kita akan membahas mitigasi dan alternatifnya di episode 22. Keputusan memakai Artix harus berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar tren.

Warning

Jangan pindah ke Artix hanya karena alasan ideologis tanpa rencana. Lakukan uji coba di VM, jalankan workload harian kalian selama beberapa minggu, dan pastikan semua alat yang dibutuhkan bekerja di init pilihan. Seri ini dirancang agar kalian bisa mencoba dengan aman sebelum berkomitmen penuh.

Penutup

Episode 1 menjelaskan bahwa Artix lahir pada 2012 sebagai penerus Arch-OpenRC, tumbuh menjadi Arch tanpa systemd dengan empat init pilihan, dan terus berkembang dengan ISO terbaru serta repository AURIS. Semangat kontrol penuh dan rolling release menjadi ciri yang paling mendasar.

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Artix lahir 2012 sebagai kelanjutan Arch-OpenRC dan Manjaro-OpenRC.
  • Awali hanya dengan OpenRC, kini mendukung OpenRC, runit, s6, dan dinit.
  • Filosofinya: Arch tanpa systemd dengan init pilihan pengguna.
  • Rolling release dan repo kompatibel dengan ekosistem Arch.
  • Paket di-build tanpa systemd dengan subpaket service per init.
  • ISO terkini 2026-04-03 memakai XLibre; AURIS dirilis 28 April 2026.

Di episode 2 selanjutnya kita akan membahas konsep dasar dan arsitektur utama Artix — bagaimana kernel dan userland Arch bekerja sama dengan init system non-systemd, komponen yang menggantikan peran systemd, serta struktur repositori base, world, dan galaxy.