Episode ini membedah tabel routing: destination network, subnet mask, next-hop, administrative distance, dan metric, plus prinsip longest prefix match. Kalian mengkonfigurasi static routing antar tiga router, default static route menuju ISP, dan floating static route sebagai backup otomatis dengan administrative distance yang lebih tinggi.

Di episode 6 kalian sudah melakukan routing antar VLAN. Sekarang kita membahas inti Layer 3 secara menyeluruh: bagaimana router memutuskan ke mana sebuah paket dikirim. Episode 9 membuka dunia routing dengan static routing — konfigurasi jalur manual yang menjadi fondasi pemahaman protokol routing dinamis di episode 10 sampai 13.
Kita akan mempelajari struktur tabel routing, prinsip longest prefix match, kemudian membangun static routing antar tiga router di PNETLab, menambahkan default route, dan menutup dengan floating static route sebagai jalur cadangan yang aktif otomatis.
Setiap router menyimpan routing table yang berisi:
Perlihatkan tabel routing di PNETLab:
R1# show ip route
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, O - OSPF, D - EIGRP
C 192.168.10.0/24 is directly connected, GigabitEthernet0/0
C 10.0.0.0/30 is directly connected, GigabitEthernet0/1
S 192.168.20.0/24 [1/0] via 10.0.0.2show ip route menampilkan rute dengan kode sumbernya. Angka [1/0]
pada rute static berarti administrative distance 1 dan metric 0.
Jika sebuah paket cocok dengan lebih dari satu rute, router memakai rute
dengan prefix terpanjang. Contoh: paket ke 192.168.10.55 cocok dengan
192.168.10.0/24 dan 192.168.10.0/25. Router memilih /25 karena lebih
spesifik, tanpa peduli AD atau metric. Prinsip inilah yang membuat rute
summary dan host route bisa hidup berdampingan.
Rakit R1, R2, dan R3 yang saling terhubung melalui subnet /30. Pada R1,
tambahkan rute menuju dua jaringan di sisi R3:
configure terminal
ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 10.0.0.6
ip route 192.168.20.0 255.255.255.0 10.0.0.2
exitSintaksnya ip route <dest-network> <subnet-mask> <next-hop-ip>.
Rute 192.168.30.0/24 via 10.0.0.6 memberitahu R1 bahwa jaringan di belakang
R3 dicapai lewat interface yang terhubung ke R3. Ulangi pola serupa di R2 dan
R3 sehingga ketiganya saling tahu — static routing tidak pernah menyebar
sendiri, setiap router harus dikonfigurasi manual.
Alternatif next-hop adalah menyebut exit interface langsung:
configure terminal
ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 g0/2
exitKedua bentuk valid, tetapi pada link point-to-point, menyebut exit interface menghindari lookup next-hop tambahan dan sering lebih efisien.
Default route adalah jaring pengaman untuk seluruh traffic yang tidak cocok dengan rute lain. Konfigurasinya memakai network dan mask semua nol:
configure terminal
ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 203.0.113.1
exitip route 0.0.0.0 0.0.0.0 203.0.113.1 mengarahkan semua paket yang
tidak dikenal ke gateway ISP. Di tabel routing, rute ini muncul sebagai
S* 0.0.0.0/0. Router enterprise biasanya punya default route keluar ke
Internet sambil tetap memegang rute spesifik untuk jaringan internal.
Floating static route adalah rute cadangan yang tidak aktif selama rute utama tersedia. Kuncinya: beri administrative distance lebih tinggi dari rute utama. Rute dengan AD terkecil selalu menang:
configure terminal
ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 10.0.0.6
ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 10.0.0.10 130
exitRute pertama memakai AD default 1 dan aktif. Rute kedua dengan AD 130 hanya
muncul di tabel routing jika rute pertama hilang — misalnya link utama putus.
Saat link utama pulih, router otomatis kembali ke rute utama. Uji skenario ini
di PNETLab dengan mematikan interface utama dan mengamati show ip route.
Bangun tiga router dengan subnet transisi /30 dan dua jaringan LAN. Tulis
dulu diagram IP di kertas (kebiasaan dari episode 3), lalu konfigurasi static
route di ketiga router. Verifikasi dengan ping dari jaringan paling ujung ke
ujung lainnya, dan gunakan traceroute untuk melihat jalur yang dilalui paket.
Inti yang harus dibawa pulang:
ip route <dest> <mask> <next-hop>.ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 <gateway> menangkap traffic yang
tidak dikenal.Di episode 10 selanjutnya kita beralih ke routing otomatis: dynamic routing fundamentals dan EIGRP — klasifikasi protokol IGP EGP, perbedaan distance vector dan link-state, konsep Autonomous System, neighbor adjacency, metric berbasis bandwidth dan delay, serta pemahaman successor dan feasible successor pada tabel topologi EIGRP.