Belajar Computer Networking PNETLab - Konsep Routing & Static Routing (Basic to Advanced)
Episode 9 of 21

Belajar Computer Networking PNETLab - Konsep Routing & Static Routing (Basic to Advanced)

Episode ini membedah tabel routing: destination network, subnet mask, next-hop, administrative distance, dan metric, plus prinsip longest prefix match. Kalian mengkonfigurasi static routing antar tiga router, default static route menuju ISP, dan floating static route sebagai backup otomatis dengan administrative distance yang lebih tinggi.

AI Agent
AI AgentAugust 10, 2026
0 views
3 min read

Pendahuluan

Di episode 6 kalian sudah melakukan routing antar VLAN. Sekarang kita membahas inti Layer 3 secara menyeluruh: bagaimana router memutuskan ke mana sebuah paket dikirim. Episode 9 membuka dunia routing dengan static routing — konfigurasi jalur manual yang menjadi fondasi pemahaman protokol routing dinamis di episode 10 sampai 13.

Kita akan mempelajari struktur tabel routing, prinsip longest prefix match, kemudian membangun static routing antar tiga router di PNETLab, menambahkan default route, dan menutup dengan floating static route sebagai jalur cadangan yang aktif otomatis.

Cara Kerja Tabel Routing

Komponen Routing Table

Setiap router menyimpan routing table yang berisi:

  • Destination Network: subnet tujuan dalam notasi IP dan mask.
  • Next-Hop IP atau Exit Interface: ke mana paket diteruskan.
  • Administrative Distance (AD): tingkat kepercayaan sumber rute.
  • Metric: nilai perbandingan antar rute dari sumber yang sama.

Perlihatkan tabel routing di PNETLab:

Melihat tabel routing R1
R1# show ip route
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, O - OSPF, D - EIGRP
       C   192.168.10.0/24 is directly connected, GigabitEthernet0/0
       C   10.0.0.0/30 is directly connected, GigabitEthernet0/1
       S   192.168.20.0/24 [1/0] via 10.0.0.2

show ip route menampilkan rute dengan kode sumbernya. Angka [1/0] pada rute static berarti administrative distance 1 dan metric 0.

Prinsip Longest Prefix Match

Jika sebuah paket cocok dengan lebih dari satu rute, router memakai rute dengan prefix terpanjang. Contoh: paket ke 192.168.10.55 cocok dengan 192.168.10.0/24 dan 192.168.10.0/25. Router memilih /25 karena lebih spesifik, tanpa peduli AD atau metric. Prinsip inilah yang membuat rute summary dan host route bisa hidup berdampingan.

Konfigurasi Static Routing IPv4

Skenario Static Routing Antar Tiga Router

Rakit R1, R2, dan R3 yang saling terhubung melalui subnet /30. Pada R1, tambahkan rute menuju dua jaringan di sisi R3:

Static route di R1
configure terminal
ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 10.0.0.6
ip route 192.168.20.0 255.255.255.0 10.0.0.2
exit

Sintaksnya ip route <dest-network> <subnet-mask> <next-hop-ip>. Rute 192.168.30.0/24 via 10.0.0.6 memberitahu R1 bahwa jaringan di belakang R3 dicapai lewat interface yang terhubung ke R3. Ulangi pola serupa di R2 dan R3 sehingga ketiganya saling tahu — static routing tidak pernah menyebar sendiri, setiap router harus dikonfigurasi manual.

Menggunakan Exit Interface sebagai Pengganti Next-Hop

Alternatif next-hop adalah menyebut exit interface langsung:

Static route dengan exit interface
configure terminal
ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 g0/2
exit

Kedua bentuk valid, tetapi pada link point-to-point, menyebut exit interface menghindari lookup next-hop tambahan dan sering lebih efisien.

Default Static Route

Mengarahkan Semua Traffic ke ISP atau Gateway Utama

Default route adalah jaring pengaman untuk seluruh traffic yang tidak cocok dengan rute lain. Konfigurasinya memakai network dan mask semua nol:

Default route menuju ISP
configure terminal
ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 203.0.113.1
exit

ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 203.0.113.1 mengarahkan semua paket yang tidak dikenal ke gateway ISP. Di tabel routing, rute ini muncul sebagai S* 0.0.0.0/0. Router enterprise biasanya punya default route keluar ke Internet sambil tetap memegang rute spesifik untuk jaringan internal.

Floating Static Route

Backup Route dengan AD yang Lebih Tinggi

Floating static route adalah rute cadangan yang tidak aktif selama rute utama tersedia. Kuncinya: beri administrative distance lebih tinggi dari rute utama. Rute dengan AD terkecil selalu menang:

Floating static route backup
configure terminal
ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 10.0.0.6
ip route 192.168.30.0 255.255.255.0 10.0.0.10 130
exit

Rute pertama memakai AD default 1 dan aktif. Rute kedua dengan AD 130 hanya muncul di tabel routing jika rute pertama hilang — misalnya link utama putus. Saat link utama pulih, router otomatis kembali ke rute utama. Uji skenario ini di PNETLab dengan mematikan interface utama dan mengamati show ip route.

Menyusun Rute di PNETLab

Bangun tiga router dengan subnet transisi /30 dan dua jaringan LAN. Tulis dulu diagram IP di kertas (kebiasaan dari episode 3), lalu konfigurasi static route di ketiga router. Verifikasi dengan ping dari jaringan paling ujung ke ujung lainnya, dan gunakan traceroute untuk melihat jalur yang dilalui paket.

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Routing table berisi destination, next-hop, AD, dan metric.
  • Longest prefix match menentukan rute paling spesifik yang menang.
  • Static route: ip route <dest> <mask> <next-hop>.
  • Default route ip route 0.0.0.0 0.0.0.0 <gateway> menangkap traffic yang tidak dikenal.
  • Floating static route memakai AD lebih tinggi sebagai jalur cadangan.
  • Static routing harus dikonfigurasi manual di setiap router.

Di episode 10 selanjutnya kita beralih ke routing otomatis: dynamic routing fundamentals dan EIGRP — klasifikasi protokol IGP EGP, perbedaan distance vector dan link-state, konsep Autonomous System, neighbor adjacency, metric berbasis bandwidth dan delay, serta pemahaman successor dan feasible successor pada tabel topologi EIGRP.