Menguasai fondasi jaringan infrastruktur: LAN/WAN, routing dan switching dasar, VLAN, DNS, serta load balancing — dari konsep sampai praktik konfigurasi dasar yang dipakai tim infra

Setelah di episode 4 kita mengelola storage, kini lapisan yang menghubungkan semuanya: networking. Jaringan adalah sistem saraf infrastruktur — tanpa jaringan yang benar, server paling canggih sekalipun tidak berguna. Hampir setiap incident besar di dunia diawali dari masalah jaringan: routing yang salah, DNS yang macet, atau load balancer yang salah arah.
Mengapa topik ini penting? Karena Infrastructure Engineer sering menjadi orang terakhir yang dimintai pertolongan saat "jaringan bermasalah" — dan harus bisa mendiagnosis dengan cepat. Episode ini memberi kalian fondasi: LAN/WAN, switching dan routing, VLAN, DNS, hingga load balancing dengan praktik yang bisa langsung diuji di lab.
LAN (Local Area Network) menghubungkan perangkat dalam area kecil — satu lantai, satu data center. Latensinya rendah, biayanya murah, dan kalian mengontrolnya penuh. WAN (Wide Area Network) menghubungkan lokasi yang berjauhan — kantor ke data center, data center ke data center — melalui internet atau leased line.
Konsep kunci WAN modern: VPN (tunnel terenkripsi) dan SD-WAN (abstraksi WAN dengan kontrol terpusat). SD-WAN 2026 adalah standar perusahaan multi-site — ia memilih jalur terbaik secara dinamis dan menurunkan biaya dibanding leased line statis.
Menghubungkan perangkat dalam segmen jaringan yang sama menggunakan MAC address. Switch mempelajari alamat MAC dan meneruskan frame ke port yang tepat. Segmen yang terlalu besar akan penuh dengan broadcast — solusinya VLAN.
VLAN (Virtual LAN) memecah satu switch fisik menjadi beberapa broadcast domain logis. Ini fondasi segmentasi jaringan — keamanan dan organisasi.
VLAN 10 → Server web
VLAN 20 → Database
VLAN 30 → Manajemen (out-of-band)
VLAN 99 → Guest / tidak tepercayaDengan pemisahan ini, traffic antar-VLAN wajib melewati router/firewall — di sinilah aturan keamanan diterapkan (kita perkuat di episode 18).
Menghubungkan antar segmen menggunakan IP address. Router membaca tabel routing untuk memutuskan ke mana paket diteruskan. Periksa tabel routing di server:
ip route show
ip route add default via 192.168.10.1 dev eth0Routing dasar yang wajib dipahami: default route (ke mana semua traffic yang tidak dikenal), static route (jalur tetap ke jaringan tertentu), dan dynamic routing (OSPF/BGP — tabel dibuat otomatis, dibahas di episode 18 untuk jaringan kompleks).
DNS menerjemahkan nama (misal api.lab.local) menjadi IP. DNS yang rusak membuat aplikasi "terlihat down" padahal server hidup — ini salah satu misteri paling klasik di dunia infra. Komponen inti:
/etc/resolv.conf).A (IPv4), AAAA (IPv6), CNAME (alias), MX (email), TXT (verifikasi).api.lab.local. A 10.10.1.20
api.lab.local. A 10.10.1.21
*.apps.lab.local CNAME ingress.lab.local.Pola round-robin (dua A record untuk nama yang sama) adalah load balancing DNS paling sederhana — namun tidak peduli kesehatan server. Kita naik level dengan load balancer sungguhan di bawah.
Load balancer mendistribusikan traffic ke beberapa server agar tidak ada yang kewalahan. Ini komponen wajib di hampir semua arsitektur produksi.
| Level | Cara Kerja | Contoh |
|---|---|---|
| L4 | Berdasarkan IP + port | Nginx stream, HAProxy, AWS NLB |
| L7 | Berdasarkan konten HTTP (path, host, header) | Nginx, Traefik, AWS ALB, Ingress K8s |
| DNS | Memutar IP berdasarkan nama | Round-robin, GeoDNS |
upstream backend_pool {
server 10.10.1.20:8080 max_fails=3 fail_timeout=30s;
server 10.10.1.21:8080 max_fails=3 fail_timeout=30s;
}
server {
listen 80;
server_name api.lab.local;
location / {
proxy_pass http://backend_pool;
proxy_set_header Host $host;
proxy_set_header X-Real-IP $remote_addr;
}
}Konfigurasi di atas mendistribusikan request ke dua backend, otomatis menandai backend gagal, dan meneruskan IP asli klien. Ini pola dasar yang akan kalian lihat dalam berbagai bentuk di production.
Load balancer yang baik tidak mengirim traffic ke server mati. Sebelum arus traffic dialihkan, ia mengecek kesehatan backend — dengan memeriksa port atau URL tertentu:
TCP check : koneksi ke 10.10.1.20:8080 berhasil?
HTTP check: GET /healthz → harus 200 OKNote
Aturan emas: jangan pernah mengandalkan satu load balancer tanpa health check yang benar. Health check yang salah (misal hanya cek port, padahal aplikasi hang) akan mengirim traffic ke aplikasi yang "port-nya hidup tapi tidak merespons" — incident klasik yang sering disalahkan ke aplikasi padahal masalahnya di LB.
Infra engineer harus lancar menggunakan lima perintah ini:
ping -c 4 10.10.1.1 # host hidup? (ICMP)
ip addr show # konfigurasi IP saya
ip route show # ke mana saya mengirim paket
ss -tulpn # port yang terbuka & pendengarnya
dig +short api.lab.local # nama → IP?Alur diagnostik yang benar: cek IP sendiri → default route → DNS → koneksi TCP ke target → aplikasi. Melewatkan salah satu langkah membuat kalian menebak-nebak di lapisan yang salah.
Pada episode 5 ini kalian telah membangun fondasi jaringan infrastruktur:
ping, ip, ss, dig dengan alur yang benar.Di episode 6 selanjutnya kita masuk ke virtualization platforms — KVM, Proxmox, dan ESXi, dari VM lifecycle sampai manajemen resource pool. Sampai jumpa di episode 6!