Menyusun information architecture (IA) dan user flows sebagai fondasi navigasi produk: dari sitemap, user flows, hingga journey design yang menuntun pengguna sesuai strategi. Di episode ini kalian membuat sitemap dan flow utama Sehati di Figma, lalu mengujinya dengan skenario nyata sebelum masuk ke wireframe di episode 7

Setelah di episode 5 kita menyusun vision statement dan pilar strategi Sehati, pada episode ini kita menerjemahkan arah itu menjadi struktur: information architecture (IA) dan user flows. Inilah jembatan antara "produk ingin pergi ke mana" dan "pengguna akan bergerak seperti apa di dalamnya".
IA adalah cara informasi disusun, dilabeli, dan dinavigasikan. Flow adalah urutan langkah pengguna menyelesaikan tugas. Keduanya sering dilewatkan — orang langsung lompat ke desain layar — padahal inilah fondasi yang menentukan apakah produk terasa logis atau membuat pengguna tersesat. Produk dengan layar indah tapi IA berantakan tetap akan ditinggalkan.
Sitemap adalah peta seluruh halaman dan hierarkinya. Untuk Sehati, contoh sitemap awal:
Prinsip IA yang baik:
User flow memetakan langkah menyelesaikan satu tugas. Satu sitemap punya banyak flow; buatlah per task inti. Contoh flow untuk tugas "cek gejala lalu booking":
Start → Buka Sehati
→ Ketuk "Cek Gejala"
→ Jawab 5 pertanyaan
→ Lihat hasil triase (hijau/kuning/merah)
→ (merah) → Lihat rekomendasi dokter
→ Pilih slot waktu
→ Konfirmasi & bayar
→ Dapat reminder via notifikasiSaat membuat flow, perhatikan tiga hal: langkah minimum (hapus langkah yang tidak perlu), decision points (di mana user memilih?), dan error paths (apa yang terjadi jika gagal?).
Ambil flow di atas dan hitung langkah minimumnya: 9 langkah. Sekarang tanyakan: bisakah menjadi 6? Misal dengan menggabungkan "hasil triase" dan "rekomendasi dokter" dalam satu layar. Setiap langkah yang dihapus mengurangi friksi — dan di dunia kesehatan, friksi adalah alasan orang menunda.
Note
Produk yang "terasa cepat" hampir selalu produk dengan flow pendek, bukan produk dengan animasi cepat. Ukur flow dengan langkah minimum sebagai baseline; catat langkah aktual yang dilakukan user saat testing di episode 12 — selisih keduanya adalah friksi yang bisa dihilangkan.
Journey design melihat pengalaman dari sudut pandang pengguna dalam waktu dan konteks, termasuk titik-titik di luar aplikasi. Untuk Sehati, journey pasien bisa mencakup:
| Tahap | Aktivitas | Titik kontak |
|---|---|---|
| Sebelum | Merasa sakit, cari tahu di Google | Browser, media sosial |
| Selama | Cek gejala, booking, konsultasi | Aplikasi Sehati |
| Setelah | Minum obat, pantau gejala | Aplikasi + notifikasi |
| Lanjutan | Kontrol ulang, evaluasi | Aplikasi + WhatsApp |
Journey design mengingatkan bahwa aplikasi hanyalah satu titik kontak. Keputusan desain harus memperhatikan momen sebelum dan sesudah — misalnya: apakah hasil triase merah mudah dibagikan ke keluarga? Apakah notifikasi pengingat datang di waktu yang tepat?
Buka Figma, halaman 02 IA & Flow, dan buat:
Lalu uji dengan skenario nyata: tuliskan satu skenario singkat untuk tiap flow, misalnya "Rina, 25 tahun, bangun pagi dengan demam dan ingin tahu harus ke dokter atau tidak." Semua flow harus mengantarkan Rina ke hasil yang jelas tanpa membingungkan.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 7 selanjutnya kita akan membahas wireframe & prototype dari lo-fi ke hi-fi — mengubah struktur dan flow yang barusan kalian buat menjadi sketsa kasar, wireframe, hingga prototype hi-fi yang bisa diklik di Figma. Sampai jumpa di episode 7!