Episode ini membahas storage replication berbasis ZFS untuk menyalin data VM antar node, migrasi online tanpa downtime, migrasi offline, serta syarat yang wajib dipenuhi agar migrasi berjalan mulus.

Saat kalian memiliki lebih dari satu node, muncul pertanyaan klasik: bagaimana memindahkan VM antar node tanpa menghentikan layanan? Jawabannya ada di dua mekanisme yang saling melengkapi: storage replication yang memastikan salinan data tersedia di node tujuan, dan migration yang memindahkan beban kerja itu sendiri.
Episode 12 membahas keduanya: mereplikasi data VM berbasis ZFS antar node, melakukan migrasi online dan offline, serta memahami syarat-syarat yang membuat semua ini berjalan mulus. Ini adalah prasyarat langsung untuk high availability di episode 13.
Storage replication menyalin data disk VM dari satu node ke node lain secara berkala. Implementasi Proxmox berbasis ZFS snapshots: setiap interval, Proxmox mengambil snapshot, mengirimkan perubahan sejak snapshot terakhir ke node target, dan membuat snapshot lagi di sana. Hasilnya, node tujuan selalu memiliki salinan data yang hampir sinkron.
Node A (sumber) --snapshot--> Node B (tujuan)Replikasi bisa dijalankan tiap 15 menit atau lebih sesuai kebutuhan. Semakin pendek intervalnya, semakin kecil potensi kehilangan data saat failover — tapi semakin besar beban jaringannya.
Replication bisa dibuat per storage atau per VM di Datacenter -> Replication -> Add. Pilih VM, node target, storage, dan interval:
VM : 100
Target : node-b
Storage : zfs-pool
Interval : 15 menitSetelah dibuat, Proxmox mengeksekusi replikasi sesuai interval dan mencatat hasilnya di task log. Cek statusnya lewat CLI:
pvesr statusPerintah pvesr status menampilkan daftar job replication, node target, dan status sinkronisasi terakhir.
Replication adalah fondasi high availability: saat node sumber mati, node target memiliki salinan data yang cukup segar untuk menghidupkan kembali VM. Tanpa replication (atau shared storage), failover tidak mungkin dilakukan.
Online (live) migration memindahkan VM yang sedang berjalan ke node lain tanpa downtime. Proxmox menyalin memori VM ke node tujuan secara bertahap sambil VM tetap melayani, lalu saat perpindahan hampir selesai, melakukan transfer terakhir dan melanjutkan eksekusi di node baru. User tidak akan merasakan apa pun.
qm migrate 100 node-b --onlinePerintah qm migrate 100 node-b --online memindahkan VM 100 yang berjalan ke node-b tanpa downtime. Untuk container, gunakan pct migrate dengan opsi serupa.
Offline migration memindahkan VM yang dimatikan. Prosesnya lebih sederhana — seluruh disk dikirim ke node tujuan, lalu VM dijalankan di sana. Ini berguna untuk maintenance terencana atau saat live migration tidak memungkinkan.
Migrasi tidak bisa dilakukan begitu saja. Dua syarat utama:
Shared storage ATAU Storage replication aktifTanpa salah satu dari keduanya, Proxmox menolak migrasi karena node tujuan tidak punya akses ke data VM.
Tip
Sebelum migrasi penting, jalankan live migration pada VM uji terlebih dahulu. Perhatikan bahwa VM dengan passthrough hardware atau disk lokal tidak bisa di-migrate secara live.
Replication dan backup sering disalahartikan sebagai hal yang sama. Padahal keduanya menjawab kebutuhan yang berbeda:
Replication : kontinuitas layanan saat node gagal
Backup : pemulihan data dari waktu tertentuKeduanya saling melengkapi: production-grade memakai replication untuk failover cepat dan backup untuk recovery jangka panjang.
Beberapa praktik yang membuat migrasi berjalan mulus:
qm migrate 100 node-b --online --verboseFlag --verbose menampilkan detail proses migrasi, berguna saat mengecek di titik mana migrasi berjalan lambat.
Episode 12 membekali kalian kemampuan memindahkan beban kerja: memahami replication berbasis ZFS snapshot, mengkonfigurasinya dari UI atau pvesr, melakukan migrasi online tanpa downtime, migrasi offline, dan memastikan syarat shared storage atau replication terpenuhi.
Inti yang harus dibawa pulang:
qm migrate --online untuk live, pct migrate untuk container.Di episode 13 selanjutnya kita akan membahas Proxmox cluster dan high availability — menggabungkan node menjadi cluster dengan pvecm, memahami quorum dan voting rules, mengenal QDevice untuk cluster dua node, hingga konfigurasi HA manager dan simulasi failover. Semua fondasi sudah siap; sekarang saatnya membangun cluster sungguhan!