Membangun sistem tipografi yang menjadi tulang punggung keterbacaan: modular type scale, hierarki teks, prinsip readability seperti line length dan line height, serta cara memadukan font untuk UI. Ditutup dengan praktik menyusun type system untuk Kantongin

Setelah di episode 3 kita membangun palette warna, pada episode ini kita menyusun fondasi kedua: tipografi. Di layar digital, hampir semua komunikasi disampaikan lewat teks — judul, label, angka saldo, tombol. Jika warna adalah "kepribadian" antarmuka, tipografi adalah "suaranya".
Mengapa tipografi penting dipahami sebagai sistem, bukan sekadar pilih font? Karena teks yang tidak konsisten adalah tanda paling cepat dikenali dari produk yang tidak profesional: ukuran yang berubah-ubah antar layar, line-height yang menyesakkan, font yang berbenturan. Sistem tipografi membuat keterbacaan terjamin di semua konteks — dan inilah yang membedakan desain "asal jadi" dari desain yang terasa enak dibaca setiap hari.
Beberapa istilah yang wajib kalian kuasai:
Type scale adalah deretan ukuran font yang punya relasi matematis — biasanya kelipatan 1.25x (musical fifth) untuk UI atau 1.333x (perfect fourth) untuk antarmuka yang lebih berisi. Kantongin memakai rasio 1.25:
Display 48px / 1.1 ← angka saldo, headline iklan
Headline 32px / 1.2 ← judul halaman
Title 24px / 1.3 ← judul kartu, section
Body 16px / 1.5 ← teks utama (basis)
Caption 14px / 1.5 ← label, metadata
Micro 12px / 1.4 ← legal, kredit, tipRasio modular membuat ukuran yang berbeda tetap selaras — tidak ada angka "nembak" seperti 17 px atau 23 px. Ini juga yang memudahkan developer mengimplementasikan (mereka cukup membaca skala, bukan menebak).
Hierarki tipografi menyatakan pentingnya informasi lewat ukuran, weight, dan warna — bukan hanya tebal-tebalan:
ink-900).ink-700).ink-500) untuk placeholder, label, metadata.Aturan praktis: untuk satu layar, cukup 2-3 tingkat hierarki teks yang jelas. Terlalu banyak ukuran justru merusak skimming yang dilakukan pengguna.
Keterbacaan ditentukan empat hal yang sering diabaikan:
body {
font-size: 16px;
line-height: 1.5; /* nyaman untuk paragraf */
letter-spacing: 0.01em;
}
h1 {
font-size: 32px;
line-height: 1.2; /* rapat untuk judul */
letter-spacing: -0.02em; /* negative tracking */
}Kombinasi font jarang membutuhkan lebih dari dua keluarga: satu untuk UI/body, satu untuk display/judul. Panduan pair yang sehat:
Kantongin memakai Plus Jakarta Sans untuk display (karakter muda, mendukung bahasa Indonesia) dan Inter untuk body/UI. Untuk angka — yang sangat penting di aplikasi keuangan — JetBrains Mono dipakai untuk jumlah & tabel (penggunaan tabular figures), agar angka saling sejajar vertikal dan mudah dibandingkan.
Tip
Untuk angka di aplikasi keuangan, gunakan font dengan tabular figures (angka monospace-width). Alasan sederhana: ketika "1.000" dan "9.999" sejajar, lebar digit yang sama membuat perbandingan visual jauh lebih mudah. JetBrains Mono dan banyak font modern (Inter juga punya fitur ini) menyediakannya.
Typography di file Figma Kantongin.ink-900, Body → ink-700, Caption → ink-500).Pada episode 4 ini, kalian telah membangun sistem tipografi yang menjadi tulang punggung keterbacaan produk.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 5 selanjutnya kita akan membahas layout & spacing (grid systems) — grid kolom, spacing scale 4/8pt, dan responsive layout untuk menyusun layar Kantongin secara konsisten. Sampai jumpa di episode 5!