Menerapkan prinsip psikologi kognitif — mental models, cognitive load, dan decision fatigue — untuk merancang JagaKota yang mengurangi beban berpikir pengguna, dari mengurangi pilihan hingga memanfaatkan pola yang sudah dikenal.

Setelah di episode 9 kita memastikan JagaKota bisa diakses semua orang, sekarang kita masuk ke area yang tak terlihat tapi sangat terasa: psikologi kognitif. UX yang baik terasa "mengalir" bukan karena kebetulan — ia dirancang dengan memahami bagaimana otak manusia bekerja.
Mengapa penting? Karena otak manusia hemat energi. Setiap layar yang membingungkan, setiap pilihan berlebih, setiap istilah asing — semuanya menguras sumber daya kognitif. Semakin banyak yang dikuras, semakin besar kemungkinan pengguna menyerah. Dalam konteks JagaKota: warga yang lelah setelah bekerja tidak akan punya tenaga ekstra untuk menebak cara melapor.
Mental model adalah pemahaman internal seseorang tentang cara kerja sesuatu, yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya. Orang yang sudah terbiasa dengan aplikasi Gojek akan membawa ekspektasi itu ke JagaKota: tombol hijau di bawah berarti "lanjut", ikon titik lokasi berarti "peta".
Implikasi desain:
❌ Tombol kirim berwarna merah → melawan ekspektasi (merah = bahaya)
✅ Tombol kirim hijau solid, tombol batal outline abu-abu
❌ Icon amplop untuk "status laporan" → salah metafora
✅ Icon checklist untuk statusKonsep cognitive load theory membagi beban mental menjadi tiga:
| Jenis | Arti | Contoh di JagaKota |
|---|---|---|
| Intrinsic | Beban yang melekat pada tugas itu sendiri | Memilih kategori yang tepat |
| Extraneous | Beban yang disebabkan desain buruk | Form yang minta alamat padahal GPS sudah ada |
| Germane | Beban produktif untuk pemahaman | Penjelasan singkat apa itu "laporan terverifikasi" |
Tugas designer: kurangi extraneous, kelola intrinsic, dan sediakan germane secukupnya. Extraneous load inilah biang keladi form yang ditinggalkan.
Decision fatigue terjadi ketika terlalu banyak keputusan menguras energi mental, sehingga keputusan berikutnya jadi buruk — atau tidak diambil sama sekali. Di form lapor JagaKota, kalian bisa menghitung keputusan:
1. Memilih kategori dari 12 pilihan
2. Memutuskan foto mana yang relevan
3. Mengetik deskripsi
4. Menentukan alamat (apakah GPS benar?)
5. Memilih cakupan (pribadi/publik)
6. Menyetujui izin lokasi
→ 6 keputusan; target: ≤ 3Cara mengurangi:
Kembali ke 12 kategori: apakah benar-benar butuh 12? Coba kelompokkan menjadi 5 level atas dan biarkan pilihan detail muncul setelahnya. Ukur perbandingannya dengan eksperimen (episode 14):
| Ukuran pilihan | Waktu memilih | Error memilih |
|---|---|---|
| 12 kategori datar | Lebih lama | Sering salah kategori |
| 5 kelompok + detail | Lebih cepat | Lebih jarang salah |
Beberapa prinsip lain yang langsung berguna:
Tip
Cara paling cepat menemukan extraneous load: rekam pengguna mengisi form dan perhatikan di mana mereka berhenti berpikir — jeda panjang di satu field menandakan kebingungan. Ulangi setelah menyederhanakan; jumlah jeda seharusnya turun. Episode 12 akan memformalkan metode ini sebagai usability test.
Inti yang harus dibawa pulang:
Di episode 11 selanjutnya kita akan membahas microcopy dan content design — UX writing, microcopy, dan error message yang jelas — untuk memastikan setiap kata di JagaKota bekerja keras. Sampai jumpa di episode 11!