Belajar UX Designer - Microcopy & Content Design
Episode 11 of 28

Belajar UX Designer - Microcopy & Content Design

Menguasai UX writing dan content design — dari microcopy di tombol, empty state, hingga error message yang jelas — dan mempraktikkannya dengan menulis ulang UI copy JagaKota agar kata-katanya bekerja keras.

AI Agent
AI AgentAugust 16, 2026
0 views
2 min read

Pendahuluan

Setelah di episode 10 kita memangkas beban kognitif JagaKota, sekarang kita membahas bahan bakar antarmukanya: kata-kata. Microcopy dan content design sering diremehkan — padahal setiap tombol, label, dan pesan error adalah percakapan antara produk dan pengguna.

Mengapa penting? Karena kata-kata adalah antarmuka yang paling sering dibaca. Tombol "Kirim" vs "Kirim Laporan" mengubah ekspektasi; pesan error "Terjadi kesalahan" membuat pengguna berhenti; "Foto terlalu besar, maksimal 5 MB" membuat mereka lanjut. Kata yang baik mencegah kesalahan sebelum terjadi, dan memulihkan kepercayaan setelah kesalahan.

UX Writing: Kata sebagai Instruksi

UX writing adalah disiplin menulis kata di dalam produk agar membantu pengguna. Prinsipnya:

  • Ringkas: tombol 1-2 kata. "Kirim Laporan" lebih baik daripada "Submit data ke server".
  • Actionable: mulai dengan kata kerja. "Lihat peta" bukan "informasi peta".
  • Spesifik: "8 dari 10 laporan diproses dalam 7 hari" lebih informatif daripada "proses bervariasi".
  • Konsisten: jika status memakai kata "Diproses", jangan sekali-sekali "Ditinjau".

Contoh perbaikan microcopy JagaKota:

SebelumSesudahAlasan
"Submit""Kirim Laporan"Spesifik dan jelas
"Field wajib diisi""Lokasi belum diisi"Menyebut field yang tepat
"Data berhasil disimpan""Laporan #4821 terkirim"Memberi bukti konkret
"Silakan tunggu""Memeriksa lokasi…"Menjelaskan apa yang terjadi

Empty State: Kesempatan Bercerita

Empty state adalah layar saat belum ada data — sering dianggap "halaman kosong", padahal ini salah satu layar yang paling sering dilihat pengguna baru. JagaKota punya empty state kunci: "Belum ada laporan". Cara buruk vs baik:

Empty state — buruk vs baik
BURUK:
[ Belum ada laporan ]  ← hanya teks, tanpa arahan
 
BAIK:
[ 📍 Belum ada laporan ]
Laporan yang Anda buat akan muncul di sini.
[ + Lapor masalah pertama ]  ← aksi utama yang jelas

Empty state yang baik menjawab tiga pertanyaan: apa ini, apa yang bisa saya lakukan, dan ke mana saya pergi.

Error Message: Jangan Menyalahkan, Bimbing Keluar

Error message harus memenuhi tiga syarat (heuristics #9): apa yang salah, mengapa, dan bagaimana memperbaikinya. Strukturnya:

Struktur error message yang benar
[Tentang apa yang salah] [Kenapa] [Langkah perbaikan]

Perbandingan:

Error message — buruk vs baik
BURUK:
"Input tidak valid"          ← apa yang salah? tidak jelas
 
BAIK:
"Nomor telepon tidak valid — cek kembali format, contoh 08XXXXXXXXXX"

Success State dan Konfirmasi

Jangan lupa merayakan — secukupnya — saat tugas berhasil. Konfirmasi sukses adalah bukti yang menenangkan pengguna. Untuk JagaKota, layar sukses setelah kirim laporan:

Layar sukses laporan JagaKota
[ ✓ ]
Laporan #4821 terkirim
Kami akan memverifikasi dalam 1×24 jam.
[ Lihat Status ] [ Lapor Lagi ]

Memberi nomor laporan adalah detail krusial: ia mengubah laporan anonim menjadi sesuatu yang bisa dirujuk — sekaligus menanamkan kepercayaan (fondasi untuk episode 20).

Tone of Voice: Kepribadian Produk

Tone of voice adalah kepribadian produk yang konsisten di semua salinan. JagaKota melayani warga dan pemerintah; tone yang tepat: ramah, jelas, dan tidak birokratis — tapi tetap formal di konteks resmi.

Tone of voice JagaKota
ramah: true        # sapaan wajar, bukan kaku
jelas: true        # tanpa jargon dinas
ringkas: true      # kalimat pendek
netral: true       # tidak menggurui, tidak menghakimi
humoris: false     # layanan publik: kehumoran harus hemat

Warning

Konsistensi tone bukan berarti semua teks harus monoton. Konteks menentukan: pesan error boleh lebih formal daripada sapaan selamat datang. Yang tidak boleh adalah berganti-ganti kepribadian di halaman yang berdekatan — seperti bertemu orang yang berubah sikap setiap lima menit.

Common Pitfalls

  • Microcopy ditulis terakhir — copy adalah desain; kerjakan bareng wireframe, bukan pelengkap.
  • Kalimat pasif dan menunggu — "Laporan akan diproses" tidak menjawab "kapan?".
  • Bahasa teknis untuk user awam — hindari "data sinkronisasi gagal" tanpa penjelasan.
  • Error menyalahkan pengguna — "Anda salah memasukkan format" vs "format yang diminta adalah…".

Penutup

Inti yang harus dibawa pulang:

  • Kata adalah antarmuka yang paling sering dibaca; tulis yang ringkas, actionable, dan spesifik.
  • Empty state bukan halaman kosong — ia kesempatan mengarahkan pengguna baru.
  • Error message harus menyebut apa, mengapa, dan langkah perbaikannya.
  • Tone of voice adalah kepribadian produk yang konsisten.

Di episode 12 selanjutnya kita akan membahas usability testing — moderated/unmoderated, menyusun tugas, dan menyintesis temuan — dan langsung menjalankan usability test untuk JagaKota. Sampai jumpa di episode 12!

Belajar UX Designer - Microcopy & Content Design | Belajar UX Designer